suku osing di banyuwangi, konsisten pertahankan tradisi

gandrung

(tari gandrung yang kini dilakukan oleh perempua, dulu oleh laki-laki)

banyak yang masih asing ketika ada yang menyebut osing. padahal sejarah keberadaan mereka telah ada sejak jaman penjajahan belanda. osing, salah satu suku di jawa yang konon nenek moyang mereka menolak perkembangan agama yang beredar saat itu.

namun ada juga yang mengatakan, using berasal dari kata “sing” yang artinya tidak. menurut sejarahnya, dulu belanda mempunyai strategi membunuh semua warga yang ada di kerajaan blambangan jawa timur. namun strategi busuk belanda ini tercium oleh warga.

saat belanda bertanya kepada warga apakah mereka warga blambangan, mereka menjawab, sing.  mereka lalu menyingkir ke daerah aman, daerah pinggiran banyuwangi.

minggu, 8 mei 2017 kami bersama teman-teman berkesempatan mengunjungi desa adat suku using di kemiren, glahah. sampai hari ini, warga kemiren tetap melestarikan adat istiadat yang diwariskan leluhurnya. suku osing adalah suku asli banyuwangi.

ocip

(pak sucipto, ketua adat suku osing)

menurut ketua adat suku osing, pak sucipto, beberapa adat yang mereka pertahankan adalah mepe kasur. jadi setiap tahun sekali, seluruh warga kemiren akan menjemur kasurnya yang bentuk dan warnanya seragam, yakni hitam dan merah. warna-warna itu mengandung makna khusus.

pada saat anaknya menikah, setiap orang tua suku osing akan memberikan hadiah berupa cangkir untuk minum tehh minimal dua lusin atau 24 cangkir dengan warna yang sama.

dari sinilah muncul tradisi festival ngopi sepuluh ewu, yakni festival minum kopi dengan cangkir yang seragam sebanyak 10 ribu cangkir.
cangkir

(setiap keluarga mempunyai koleksi cangkir yang motif dan warnanya sama untuk minum kopi)

sucipto, laki-laki yang selalu  memakai ikat kepala batik ini menjelaskan, dia bersama dengan anak muda suku osing terus berusaha melestarikan budayanya dengan mendirikan sanggar tari barong. sampai saat ini ia telah memiliki 3 kelompok seni tari barong: tresno budoyo, sapu jagad dan sawung alit.

di sanggar ini pak ocip, nama panggilnnya tak memungut biaya sama sekali. sanggar tari pak ocip telah melanglang buana ke lima negara di eropa. salah satunya adalah jerman. dia bersama rombongan juga pernah beberapa kali melakukan pentas di salihara, jakarta.

barong(tari barong untuk menyambut tamu dan menemani tamu saat perjamuan makan)

masih banyak hal menarik yang perlu diketahui soal suku osing ini. mereka memakai bahasa jawa, namun sangat berbeda kosa kata dan tone ketika mengucapkannya.

ada yang mengatakan, bahwa sing yang artinya tidak ini bermaksud untuk menunjukkan bahwa suku osing bukan suku jawa dan bukan juga suku bali.

berminat mengunjungi suku osing, saya punya kontaknya pak sucipto.

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*