jakarta adalah ironi-ironi

jakarta-ironi
jakarta itu seperti gemerlapnya lampu, sangat mematikan bagi para laron yang tak paham realitas yang sebenarnya.

sebagian kecil orang-orang membuang–buang dan menghabiskan uangnya di jakarta, sebagian agak besar, mengembangbiakannya dan sebagian besar hanya mampu memungut recehan, remah-remahnya saja.

bagi orang-orang daerah (baca: kota lain, karena ada beberapa orang yang ngamuk ketika tempat tinggalnya yang berada di luar jakarta di sebut daerah) jakarta sudah seperti tanah yang dijanjikan, tempat semua harapan disemaikan, tempat untuk mewujudukan mimpi-mimpi yang telah dibangun massal secara tak sadar sejak masa kanak. pemerintahan orde baru yang sentralistik yang paling bersalah dalam hal ini.

akhirnya jakarta yang metropilis ini melahirkan ironi-ironi.

sudah klise dan basi, setiap pagi, ketika para pekerja berangkat ngantor, para pengendara mobil umum atau pribadi mengeluhkan macet di social media, khususnya twiter.

kalau yang mengeluh para pengangkot, mungkin masih bisa diterima. mereka menyalahkan atau menyinyiri para pengendara mobil pribadi yang berada di mobil sendirian. dan merekalah mayoritas yang memenuhi jalan.

sampai suatu hari ada pameran mobil yang dp-nya 16 jutaan. lalu para pengangkot memutuskan untuk membelinya. sekarang ia memakai mobil pribadi seperti orang-orang yang mereka nyinyiri sebelumnya. kini alasannya karena public transportation yang tidak nyaman, penuh teror copet atau sopir yang ugal-ugalan seperti membawa karung-karung beras. tapi diam-diam alasan sebenarnya selain kenyamanan adalah karena dengan mengendarai mobil, calon mertua lebih yakin 10000 persen anaknya akan bahagia jika menikah dengan calon mantu dengan kriteria ini.

sayang kadang-kadang mereka tidak siap dengan kondisi barunya ini. dengan mobil barunya yang belum lunas ini, mereka punya lebih banyak pertimbangan ketika akan bepergian: mencemaskan tingkat kemacetan, mengkhawatirkan kapan hujan akan datang karena mobilnya baru dicuci atau mudah tidaknya nanti mencari parkiran. lebih jauh mereka memikirkan aman tidaknya di tempat parkir.

sampai kantor sarapan, haha hihi dan bergosip kecil dengan coworker sebelum memulai bekerja. atau menyapa teman lain via whatsapp atau social media, tapi harus bersabar, karena mereka kadang  baru merespon 20 jam kemudian.

meski sekarang era 2.0 datang ke kantor harus  tepat waktu dengan absen sidik jari. Meski di beberapa kantor, sebenarnya bekerja bisa diselesaikan di mana saja.

sampailah waktu makan siang. di jakarta makan siang adalah hal yang sangat luar biasa dan rumit. perlu diskusi bermenit-menit untuk memutuskan akan makan di mana dan sama siapa. tidak seperti orang-orang yang makan ke warteg yang begitu jujur tanpa tujuan lain selain ingin mengisi perut.

untuk menghabiskan sisa waktu istirahat, mampirlah ke mal. menarik, sedang ada banyak diskon rupanya. tapi sayang ini baru tengah bulan. namun tak perlu khawatir, meski uang tak ada, hasrat belanja tetap bisa terlampiaskan dengan kartu-kartu plastik. bahkan ada yang bisa dicicil sampai 12 bulan dengan bunga 0 persen. gaji hanya numpang lewat saja. sebagian (besar atau kecil ya) pekerja jakarta tak ubahnya cerpelai yang berlari diatas kincir, lebih tragis lagi, mirip sisifus.

berkantor di kawasan segitiga emas memang tampak lebih wow, elit dan tentu saja dianggap lebih keren segalanya. namun sungguh mengenaskan ketika harus pulang ke tempat kost yang jauh di pinggir kota. untuk menjangkaunya harus blusukan lewat gang sempit yang akan membuat pak post sungguh kesulitan andai ada yang kirim surat.

hari gini eksis di sosial media adalah segalanya. entah bagaimana pun caranya. apalagi kalau memang ingin membranding diri menjadi seseorang dengan label tertentu  suatu hari menjadi selebtwit. meski awal-awalnya kritis, nyinyir, menggelitik dan lucu, pada suatu hari nanti ketika sudah akrab dengan brand, menjadi selebtwit akan menjadi tweeple yang sebaliknya, penuh energi positif, penyebar semangat , motivator handal, klise sekaligus garing.

sehingga ngetwit menjadi sebuah pekerjaan. twit harus disiapkan. menjadi selebtwit harus punya energi diatas rata-rata. karena follower menuntutnya untuk terus ngetwit apa saja dimana saja dan kapan saja.

saya jadi teringat artikel di sebuah blog yang menceritakan kesuksesan seorang chef tanpa pernah menyalakan kompor sama sekali. dia hanya rajin memposting resep-resep yang ia comot dari berbagai sumber sambil tiduran di rumah. akhirnya ia menjadi pembicara di sebuah seminar dari satu tempat ke tempat yang lain. dia lebih populer dari chef yang sebenarnya. dia menikmati pekerjaan barunya.

untuk menunjang pekerjaanya atau memang sekedar ingin terus eksis di twitter, mereka sering-sering datang ke acara. namun mereka meniru para calon haji yang memakai onh plus, datang paling terakhir, pulangnya paling cepat. biar tekesan sangat sibuk dan banyak acara lain yang masih harus didatangi.

ada banyak cara untuk esksis ketika tak ada ide: mengeluh padahal ingin pamer saja. mendoakan para pekerja yang sedang ada di sebuah kota yang dikunjungi, mengingat masa lalu ketika sedang di suatu tempat yang keren, kangen seseorang dengan menyebut nama tokoh besar ketika sedang membaca buku atau yang lain, atau mengunggah foto-foto ketika sedang melakukan kegiatan sosial dan komersial.

intinya semuanya yang dilakukan itu harus menambah nilai untuk menegaskan bahwa dirinya bukan orang biasa, tapi selebtwit yang super eksis yang potensial banget menjadi media untuk beriklan.

seperti pekerja metropolitan lain, tak ada yang pernah merasa cukup kapan harus berhenti bekerja dengan tujuan mencari uang. sampai  sekarang belum pernah ada kabar itu. orang-orang selalu mencari uang meskipun sebenarnya sudah lebih dari cukup. tidak bekerja di indonesia dianggap lebih rendah martabatnya. seroang teman dengan akun @suamimalas masih terus didoakan oleh orang tuanya agar segera dapat pekerjaan di tiap ulang tahunnya. padahal dia adalah seoran freelancer yang proyeknya berasal dari australia dan negara-negara lainnya.

kenapa tidak juga menjadi volunteer, karena belum terbiasa. pekerjaan itu masih dianggap sampingan belaka. tak ada orang yang bebas finansial menjadi volunter fulltime. padahal menjadi fulltime volunteer pasti lebih membahagiakan.  selain bisa lebih eksis, punya nilai tambah buat personal branding, juga bisa bekerja di mana saja, di rumah, tempa kost, di warung kopi atau di kantor-kantor yang menyediakan space gratis.

tak perlu ngantor gedung tinggi, kinclong yang setiap tamu yang datang selalu disuudzoni sebagai teroris yang suka ngebom, disenyumi para security dan resepsionis yang sangat ramah kepada orang-orang yang bermobil mewah, juga kepada para bule. kalau ada yang penampilannya kumuh, interogasinya lebih lama, ke lantai berapa, ketemu siapa, apa keperluannya. bahkan mereka lebih percaya kepada para pemegang kartu identitas yang dikalungkan meski para satpam itu tak pernah membacanya.

mereka belum melek sosial media, tak pernah menyangka sikapnya itu akan dipublish oleh mereka yang menganggap telah menjadi korbannya. tapi wajar kalau para sekurity itu gaptek. wong orang-orang yang mengaku modern, berpendidikan, gaul dan metropolis aja masih gaptek abadi.

telah banyak contoh yang bertebaran di linimasa  yang masih meributkan soal privasi . padahal kita dengan riang dan ikhlas memasukkan data-data ketika diminta sebuah aplikasi.

beberapa waktu lalu seseorang memaki-maki, atau menjelek-jelekkan seseorang di social media.  dikiranya misuh-misuh di social media terbatas tidak bisa discreenshoot lalu beredar dari dm ke dm sampai ada orang yang iseng mempublish dan melaporkannya ke polisi.
orang-orang yang merespon dengan makian yang lebih sadis  juga tak kalah gapteknya.  mestinya orang yang memaki-maki di social media itu dikasih tahu, diedukasi. begini loh karakter medium baru itu.

era 2.0 ketika semua sudah terhubung, privasi sudah mati. setiap orang adalah media, bisa menjadi objek sekaligus subjek sebuah media. apapun yang kita lakukan akan tercatat otomatis oleh internet yang mewakili malaikat rakib dan atit di bumi

orang pintar lain yang gaptek adalah para dosen yang melakukan perkuliahan di twitter. maksudnya mungkin baik, berbagi ilmu, namun di medium yang salah, space 140 karakter yang rawan salah paham. seorang dosen linimasa pernah bertanya kepada followernya sebelum memulai kultwitinya, nformasi apa yang pengen dishare di linimasa? bersahut-sahutan jawabannya. namun ketika sudah sampai nomor 20 responnya sedikit. ia pun kembali bertanya apakah kultwitnya akan dilanjutkan atau tidak.

fenomena ini menarik karena kultwit begitu disukai dan sangat populer. menurut salah satu onliner, ini adalah bentuk kegagalan pendidikan. orang-orang yang maunya instan, malas belajar secara serius dan ingin terus disuapi.

dan tulisan ini, adalah juga ironi. ironis.

 

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*