lebaran 2012 (3): pada sebuah reuni kecil

AACW001099

di setiap reuni, pasti saya tidak akan datang. teman-teman dekat memahami alasanku kenapa tidak pernah mau ke acara kumpul-kumpul yang sangat formal itu. karena itu dua temanku itu “mengalah” mendatangiku, mengadakan reuni kecil.

hubunganku dengan (sebut saja) simpati dan axiata sangat akrab sejak masa bocah. mereka teman belajar, bermain dan berpetualang jahat. hari itu kami bersepakat ingin bertemu di satu tempat. tempat kami dulu sering dipakai nongkrong ketika bolos sekolah.

tempat itu nyaris tak berubah setelah puluhan kali kalender berganti. semuanya nyaris sama, kecuali harga-harga makanannya. es rujak kini harganya telah menjadi 25 kali lipat harga dulu. masa kejayaan tempat ini tampaknya juga mulai surut. hanya beberapa orang saja yang duduk-duduk di dalam warung sore itu.

hebat sekali sekarang simpati dan axiata ini. persis seperti yang dikatakan yuswohady dalam salah satu artikelnya, “mudik sebagai medium yang menggiurkan untuk “mementaskan” kesuksesan kita. mudik is about story of success. mudik is about celebration of success. mudik adalah “panggung” untuk mementaskan kesuksesan. mudik menjadi medium yang luar biasa untuk pamer kesuksesan kita.”

teman-temanku tak seekstrim itu pastinya. yang jelas, mereka telah berubah menjadi kelas menengah yang sukses di jakarta. mereka datang dengan mobilnya masing-masing. penampilan dirinya full dengan atribut benda-benda yang sedang trend sekarang ini. sementara saya datang dengan berjalan kaki. biar sehat alasanku, namun sesungguhnya karena tak ada pilihan lain.

kami bertiga, berbincang mengenang masa dulu. mereka selalu memuji-mujiku (tapi dengan diam-diam bermaksud meledekku) bahwa aku dulunya anak paling juara di tiap kenaikan kelas. memang benar, dulu simpati dan axiata tak berani macam-macam denganku. karena bagi mereka, akulah penolongnya saat ulangan atau ujian tiba.

mereka berdua menyadari kelemahanku. untuk urusan yang tidak berhubungan dengan ulangan dan ujian sekolah, aku mati gaya. mereka berjaya ketika sedang bermain atau kegiatan apapun selepas sekolah. kegiatan pramuka atau ekstrakurikuler lainnya. sementara aku begitu malasnya.

waktu membuktikan, mereka berdua yang lebih sukses sekarang. mereka pintar, gesit dan cepat menguasai lapangan. simpati sekarang menjadi seorang developer perumahan dan axiata menjadi “pejabat” di salah satu maskapai penerbangan. sementara aku masih begini-begini saja.

mereka menceritakan pengalaman dan pencapaian-pencapaiannya. cukup menarik dan menakjubkan namun tak istimewa. seperti dalam kisah sinetron yang klise: mereka mengawali karirnya dari rendah, perlahan merangkak naik dan seperti sekarang. dari cerita mereka, ada satu hal dari mereka yang kurang. mereka belum punya kebiasaan online sehingga tidak tahu tentang social media. nah sekarang giliranku yang bercerita, mereka diam mendengarkan, entah sangat tertarik atau tidak mudeng sama sekali.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*