pahala vs ikhlas

ramadan usai. suara maher zain feat fadli padi tak ada lagi di mal atau tempat belanja lain. orang-orang datang ke masjid tak setepat waktu dan seramai sebelumnya. sehabis shalat pun mereka tak ada lagi yang takzim membaca quran.

suasana kembali seperti semula. biasa saja. memang masih ada satu amalan sunnah puasa syawal. namun tampaknya tidak heboh. mungkin karena pahalanya yang kurang besar? entahlah.

di teve-teve dari lebaran tahun lalu sampai ramadan yang akan datang, semua ustadz seperti terobsesi dengan pahala. apalagi bulan ramadan yang diyakini sebagai bulan yang penuh berkah. semua kebaikan yang kita lakukan akan memperoleh pahala yang berlipat-lipat.

bahkan seorang ustad berani mengklaim, agar melakukan pembacaan kalimat tertentu sebanyak sekian dengan imbalan pahala sekian. efeknya semua orang berlomba-lomba menumpuk pahala. mereka berusaha semaksimal mungkin berbuat kebaikan.

mereka merasa sudah memegang tiket ke surga ketika hanya melakukan kebaikan personal berhubungan dengan tuhan. shalat dan berdoa yang (mungkin) lebih mudah dilakukan. hubungan kepada sesama manusianya masih kurang maksimal.

ironisnya mereka juga mengajurkan agar melakukannya dengan ikhlas. bagaimana ini, di satu sisi kita berharap pahala, sementara di pihak yang lain kita harus ikhlas. ada yang mengatakan, ikhlas itu tak berharap. apakah bisa disebut ikhlas jika dibalik perbuatan selalu ada pamrih?

mungkin perlu cara baru untuk menyampaikan konsep tentang pahala sehingga tidak ada kontroversi. ada yang bisa menjelaskan tentang ini, silakan di share di sini? 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*