email yang meminta kritikan

mengkritisi itu sangat berbeda dengan mencela. sayang sekali kebanyakan orang susah menerima kritik. yang lebih aneh, ada yang mengakui kritikan itu benar namun ia enggan sekali mengubahnya. (kalau ini bukan lagi tentang mau atau tidak dikritik, tapi lebih ke masalah kebiasaan).

sore menjelang pulang, saya menerima email yang subjeknya minta kritikan. teman di seberang itu mengirimkan contoh tulisannya. serius minta kritikan ke saya? baiklah. meski sampai sekarang belum ada pengakuan bahwa tulisan saya bagus, tapi setidaknya saya akan mengkritisi sebagai pembaca saja, bukan sebagai penulis.

namun diam-diam saya tersanjung juga.

saya tahu banyak “kritikus” di luar sana yang lebih suka bermanis-manis, memberi semangat, mengapresiasi tulisan seseorang dengan komentar-komentar yang positif. namun menurutku itu justru menjerumuskan. karena mereka tidak menunjukkan sisi-sisi kekurangannya. benar memang andai ada yang mengatakan, tidak ada karya yang buruk. ini hanya masalah selera saja.

dan kemungkinan selera saya sangatlah buruknya. tapi saya akan mengatakan sejujurnya apa yang saya rasakan ketika membaca tiga halaman esai yang dikirimkan kepada saya. tujuan saya baik, agar si penerima kritik mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukan, sehingga ke depan kesalahan itu tak terulang.

saya sebenarnya mempunyai kebiasaan yang sama. ketika saya selesai membuat postingan, saya langsung mengirimkan ke seorang penulis keren untuk meminta pendapatnya. diam-diam saya mengharapkan pujian. namun jawaban yang paling sering saya peroleh sangat menyakitkan, “kamu tuh sebenarnya mau ngomong apa?”.

kejadian itu sangat sering, namun saya tak pernah kapok juga. hanya sesekali dia bilang tulisan saya bagus. selebihnya dia akan menilai tulisan-tulisan yang aku posting di blog ini nyaris tak pernah berubah. “biasa”. “biasa saja”. “biasa banget”, jawabnya.

namun ia memberikan alasan-alasan yang selalu berbeda di setiap postingan. selain mengkritisi tentang ide tulisan. ia juga rajin memelototi kata per kata. kenapa memakai kata ini bukan itu? karena menurutnya pemilihan kata itu akan membuat tulisan menjadi fresh. dia lalu bertanya, apa yang ada dalam pikiranmu ketika mendengar kata anjangsana, safari, ngibrit, mejeng misalnya.

dan kalau sudah membahas tulisan yang bagus itu seperti apa, perlu bergelas-gelas kopi untuk membahasnya. apalagi setiap orang mempunyai versinya sendiri-sendiri, sangat subjektif. namun kesimpulannya, tulisan yang bagus itu adalah tulisan yang bentuk dan isinya keduanya bagus!

okay saya akan melanjutkan membaca tulisan teman saya dari seberang itu. namun karena harga cabe sekarang lagi mahal, kritikan saya pasti tidak pedas.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*