susahnya kalah

kalah itu menyakitkan. karena tak ada nomor dua dalam sebuah kompetesi. apalagi di dunia persilatan, kalah berarti mati.

tak perlu seekstrim itu memang kompetisi jaman sekarang. misalnya pagi ini aku lihat di tipi mengenai pilkada jawa timur. kelompok karsa (soekarwo dan saifullah yusuf menang tipis dari pesaingnya. selisihnya tak hanya sampai satu persen.

sesuai berita di detiknews, kelompok yang kalah hari ini ke jakarta akan mengajukan gugatan ke mahkamah konstitusi.

di daerah lain, kejadian serupa selalu terulang. bahkan ada yang sampai menimbulkan korban jiwa. misalnya kasus pilkada maluku bulan lalu. sang pecundang selalu mencari-cari kecurangan pihak lawan.

mungkin perlu waktu dua generasi untuk sampai tahap seperti maccain yang berlapang dada, ikhlas menerima kekalahannya dengan pidato ucapan selamatnya kepada obama.

nasehat steven covey dalam bukunya seven habits tidak berlaku untuk urusan politik. karena sesuatu yang diperebutkan itu sangat terbatas, hanya satu.

kata mas covey kita mestinya mempunyai falsafah menang-menang (bukan menang-kalah). hubungan antar manusia sebaiknya harus memberi manfaat timbal balik. sehingga seseorang akan merasa susah andai ada pihak lain yang merasa tak bahagia.

hidup dipandang sebagai kerjasama bukan permusuhan. mental mengalahkan itu hanya dipunyai oleh mereka yang merasa terancam. sehingga untuk memperebutkan sesuatu, harus mengalahkan pihak lain. 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*