17an waktu bocah

tak begitu menceriakan, datar-datar saja setiap peringatan 17 an. tidak patriotis? tak nasionalis? mungkin iya. toh sejak bocah sampai sekarang tak ada pemaknaan peringatan kemerdekaan yang lebih keren.

semua masih sama, seperti berpuluh tahun lalu. ketika masih sd, 17 an menurutku hari yang menjengkelkan: upacara bendera yang sampai siang, penurunan bendera di waktu senja.

jauh hari sebelumnya, latihan menabuh drumband pada setiap habis pelajaran. bagi mereka yang berumah jauh, tak diberi uang saku, hari itu adalah neraka. sudah capek dan di telantarkan tak ada makanan.

dan tanggal 18 nya, seharian lagi karnaval pembangunan. berdandan sok sok an jadi pahlawan dengan membawa bambu runcing, sok sok an agamis berpakaian muslim atau berjubah mirip pendeta. menghias sepeda atau mobil berkeliling menyusuri jalan -jalan.

beruntung, tiap tahun, aku selalu bisa lolos dari ulah bapak-bapak guru yang manut saja apa yang diperintahkan diknas. lalu melampiaskan egonya untuk memenangkan prestise diantara sekolahan yang ada.

begitu saja, perayaan seremonial belaka. seolah melupakan makna sebenarnya kemerdekaan itu apa dan bagaimana para pejuang merebutnya. mereka mengabaikan ketulusan pahlawan yang mengorbankan nyawanya.

sekarang kita tinggal mengisinya dengan mencontoh kepahlawanan mereka di lingkungan yang paling sempit saja. namun berat, lebih enak menjadi koruptor bebas yang ketika di tanya hakim tinggal menjawab, “lupa…lupa…

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*