setahun corona: kita lebih keren dari yang kita duga.

kita semua secara bersama-sama bisa kompak melakukan prokes 5m selama setahun. ironisnya makhluk perkasa yang mampu memerintah seluruh penghuni bumi mengubah perilaku kita itu adalah sosok super kecil, bahkan tak terlihat secara kasat mata. sejak tahun lalu virus corona menjadi penguasa.

momen pandemi karena serangan virus yang tak pernah diduga sebelumnya ini memberikan makna tak biasa bagi masing-masing individu.

seorang teman mengatakan, masa pandemi yang entah kapan berakhirnya ini memaknai-nya sebagai tahun kehilangan dan kebangkrutan. tentu saja ada yang sebaliknya, masa berkesempatan untuk mengubah diri dan keadaan menjadi lebih baik, meski dari nol.

ada juga yang memaknai, pandemi yang memporak-porandakan rencana setahun atau bahkan lima tahun ke depan adalah masa jeda, rehat sebentar setelah berpuluh-puluh tahun, dipacu untuk terus beraktivitas, bekerja mencapai target yang tiap tahun terus bertambah.

corona menghentikan semua itu. virus-virus yang asalnya diduga dari kelelawar ini seolah memberi kesempatan orang-orang untuk berefleksi, bertanya sudah sejauh manakah kita menjalani kehidupan ini?

masa pandemi adalah waktu untuk meredefinisi dan memikirkan tujuan hidup, target-target dan cara-cara baru yang lebih sesuai dengan kondisi yang sudah jauh berbeda dengan tahun lalu.

langkah pertama dengan mengenali lebih dekat dengan diri sendiri, apakah sebenarnya yang kita lakukan selama ini telah benar-benar sesuai dengan passion, yang kita maui dan selaras dengan kompetensi yang ada di dalam diri. mundur selangkah untuk melenting setinggi-tingginya.

corona juga menyadarkan kita, manusia sebagai pengontrak planet ini telah mengotori dan merusak bumi. adanya serangan virus corona memaksa orang tidak bergerak, menghindari tidak pergi kemana-mana. beberapa kota di dunia lockdown.

hal ini menyebabkan udara tak terkotori karbondioksida. langit menjadi biru dan bumi seperti berkesempatan menyembuhkan dirinya. bisa jadi usia bumi akan lebih panjang sebelum meranggas lalu pecah berkeping-keping.

seorang teman, eks coworker yang kini tinggal di pantai utara jawa mengatakan, adanya corona ini adalah berkah, jawaban dari doa-doa yang selama ini dimohonkan ibunya. sudah sejak lama ia disuruh pulang, tinggal di rumah menemani ibunya yang kini sudah sepuh dan sendirian. kini, ia mau tidak mau harus pulang kampung, toh dia bisa mengerjakan tugas-tugasnya dari mana saja asal ada sinyal yang kencang.

sebenarnya, soal bisa kerja dari mana saja ini, saya sejak dua puluh tahun lalu sudah pernah mengusulkan ke atasan untuk mencoba bekerja dari rumah. karena memang memungkinkan asal ada sinyal.

usulan itu hanya jadi angin lalu saja. memangnya siapa saya? selain itu memang belum ada pihak kantor/instansi lain yang mencoba menerapkan. mereka khawatir tentu saja atau belum siap dengan konsekuensi-konsekuensi.

tentu saja kerja dari rumah dianggap banyak gangguan, seolah tidak ada yang mengawasi, tidak tampak kelihatan secara fisik, sinyal yang tak stabil dan kekhawatiran lain yang masuk akal.

namun saya yakin harus ada pihak yang berani memulai.

ide yang sama juga pernah saya sampaikan ke orang yang berbeda, namun responnya sama: absurd.

sampai datanglah pandemic.

makhluk-makhluk tak kasat mata itu justru mampu memaksa seluruh penduduk bumi melakukan hal baru. salah satunya adalah kerja dari rumah, tidak lagi di kantor.

dan hasilnya?

sungguh menakjubkan. kemampuan kita beradaptasi dengan kondisi baru sungguh agak susah dipercaya akal sehat orang yang bermindset biasa-biasa saja.

dengan segala plus minusnya, kita semua bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik tanpa harus ke kantor. dengan berkembangnya teknologi yang ada, kita bisa memaksimalkannya.

bonusnya, kita bisa lebih rutin berperilaku sehat, rajin cuci tangan, berolahraga dan tentu saja mengontrol asupan makanan harian. banyak postingan di sosial media yang memamerkan selama wfh sekarang lebih kurus, lebih bugar.

beruntung saya tak perlu mengalami jetlag, nyaris tak perlu menyesuaikan diri dengan adanya perubahan ini. kerja dari rumah atau darimana saja asal ada sinyal tak masalah. hal ini memang sudah sewajarnya karena teknologi memudahkan pekerjan kita. jadi ada pandemi atau tidak kita bisa bekerja dari mana saja.

sehingga masa lalu yang menyedihkan itu bisa cepat-cepat kita kubur dalam-dalam. bayangkan, untuk bekerja orang-orang yang tak punya previlge mobil pribadi harus berdesak-desakan di dalam kereta, bahkan harus jambak-jambakan demu mendapat kursi.

karyawan yang kurang beruntung harus berangkat habis sholat tahajud atau bermacet-macet, berjam-jam setiap hari sepanjang tahun. dan ini tragis.

dengan bekerja dari rumah produktivitas meningkat dan bekerja lebih panjang dari jam kerja. tentu ini cerita manisnya.

di luaran, banyak juga cerita pahit orang-orang yang bisa dikatakan gagal menyesuaikan dengan kebiasaan baru ini, baik karena faktor dari dalam diri mereka sendiri atau karena faktor luar yang tak bisa dia lawan.

contoh paling ironis adalah sebuah perseroan online yang tetap memaksa karyawannya untuk masuk ke kantor setelah dilakukan tes antigen massal. harapannya semua karyawan yang hasil tesnya negatif bisa masuk kantor seperti sebelumnya. dia tidak menyadari bahwa karyawannya bisa tertular saat beli sayur di warung depan setelah tes.

di banten, seorang ibu tega membunuh anaknya ketika mendampingi anaknya yang sedang belajar daring.

di kota-kota lain, banyak siswa yang terpaksa berjalan ke puncak gunung untuk mendapatkan sinyal, guru-guru harus naik ke pohon, ada juga siswa yang belajar dengan meminjam hape tetangga dan cerita-cerita miris lainnya.

tanpa bermaksud tidak bersimpati kepada mereka yang kehilangan atau sakit karena corona, dengan hadirnya serangan virus itu mengajarkan kita bagaimana seharusnya menyikapi perubahan yang terjadi, tidak terlena, keasyikan dengan tetap memakai cara-cara lama dalam memecahkan masalah.

corona memaksa orang mengubah mindset lama yang sudah expired.

jadi sebenarnya kita harus lebih cepat dalam merespon atau menyesuaikan diri dengan kondisi kekinian, tanpa menunggu dorongan dari pihak luar. kalau kesadaran itu sudah ada, kita akan takjub kepada diri sendiri bahwa sebenarnya kita itu lebih keren dari yang kita duga.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*