kapan “the boy who harnessed the wind” di kampungku segera berakhir?

film “the boy who harnessed the wind” ini sebenarnya sudah lama, hanya saja baru punya kesempatan menonton kisah nyata yang terjadi di kampung kasungu, malawi, afrika ini.

cerita di film ini mirip dengan apa yang terjadi di kampungku, di ujung selatan wonogiri. atau bahkan juga terjadi di banyak wilayah se-nkri harga mati?

kisah yang memilukan ini mestinya tidak perlu terjadi dan terjadi lagi, berulang-ulang. apalagi kalau bukan soal kemiskinan dan budaya beberapa warga yang masih menganut faham banyak anak banyak rejeki.

empat puluh tahun lalu, ada beberapa anak di kampungku yang terpaksa tidak melanjutkan ke sekolah menengah. mereka terpaksa membantu bekerja di sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang jumlahnya banyak. yang paling tragis adalah temanku perempuan, sebut saja namanya zooey deschanel.

dia pintar, bersemangat untuk sekolah namun keinginan itu terpaksa kandas, mimpi indah itu musnah.

duka itu makin dalam ketika ia menginginkan rambutnya dikeriting, karena saat itu sedang tren. ayahnya tentu saja marah besar. zooey makin terpuruk, putus asa dan sakit. tak berapa lama, ia memilih pergi ke surga.

pengalamanku itu berlanjut saat smp ada teman yang tidak diijinkan ikut tes karena tak mampu bayar spp, iuran bulanan sekolah. dia lalu meminjam uang pada saya untuk membayar iuran dua bulan yang menunggak. *dan sampai sekarang belum dikembalikan.

peristiwa-peristiwa serupa ini masih kita dengar, setelah berpuluh-puluh tahun berlalu. di media (sosial) masih banyak yang mengabarkan banyaknya anak-anak putus sekolah, bahkan ada anak-anak yang terlantar, berkeliaran di jalanan.

kapan kisah-kisah seperti yang ada di film “the boy who harnessed the wind” akan berakhir? beruntung sekali william, karakter anak dalam film ini bisa melahirkan karya besar yang bisa mengubah nasib keluarga dan seluruh warga kampungnya.

salah satu penyebab masih banyak anak-anak terlantar, tak terpenuhi hak-haknya adalah karena keegoisan para orangtua.

(tentu ini pendapat yang bullyable dan tidak pantas disampaikan secara terbuka, apalagi di saat pandemi seperti ini, akan banyak hati yang terluka. maapkan )

masih banyak orangtua yang belum (atau tidak?) merencanakan masa depan kehidupan keluarganya, khususnya nasib anak-anaknya. kalau kita lihat, banyak anak gadis dan jejaka yang menikah tanpa persiapan dan perhitungan yang matang.

dan ini didukung oleh lingkungan dan kebiasaan orang-orang konvensional yang mindsetnya menikah adalah sebuah life goal.

sangat sedikit atau mungkin tidak ada warga yang membahas soal persiapan perkawinan dan perencanaan pendidikan anak sebagai isu yang penting.

mereka nyaris tak pernah begitu mempermasalahkan keluarga yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, menelantarkan anak, tidak memenuhi hak-hak anak atau bahkan ada beberapa orangtua yang menitipkan anaknya ke mertuanya karena berbagai alasan. ini belum termasuk pembuangan bayi yang lahir karena orangtuanya belum/tidak menikah

namun mereka kebanyakan lebih fokus pada orang-orang yang masih single dengan keponya selalu bertanya, kapan nikah, kapan nikah, kapan nikah.

urusan pernikahan cenderung dimudahkan, dan ini didukung oleh lembaga secara resmi dengan meniadakan pengecekan apakah calon mempelai sudah siap secara mental, emosional dan material.

di masa covid ini ada kisah nyata yang menarik. di media sosial. seseorang mengeluhkan kondisi keluarganya yang harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli kuota internet. agak tidak masalah ketika anaknya hanya satu, bagaimana kalau anaknya tiga, dan masing-masing tak punya meja belajar sendiri?

curhatan itu langsung di sambar oleh netijen +62 lain dengan sebuah pertanyaan, emangnya waktu bikin (anak) mikirin ngga kebutuhannya kelak?

di negara-negara maju, di jepang misalnya, mereka punya masa menjomblo lebih lama. bahkan sekarang ini mereka sudah pada level enggan menikah. sehingga tingkat kelahiran bayi di negeri udon ini sangat rendah.

karena itu pemerintah khawatir kalau mayoritas warganya terus membujang selama hidupnya, bisa-bisa negara itu punah.

pemerintah sampai harus memberikan dorongan agar warga mau menikah dan punya anak.

di negeri ninja ini, jika ada warganya yang menikah, pemerintah akan menyumbang uang sebanyak 84 juta. aturan ini berlaku mulai april 2021.

salah satu pemicu keengganan menikah itu karena mereka merasa tak punya waktu lagi untuk berpacaran dan bercinta. mereka lebih sibuk bekerja mengejar karir, dan ini tentu saja lingkungan juga sangat mendukung.

sebaliknya di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, tiap orang bisa menikah hanya dengan bermodal 500 ribu rupiah saja. dan ini didukung kebiasaan ( atau budaya) sebagian keluarga yang menikahkan anaknya sebagai solusi untuk mengurangi beban hidup.

dan aku kira sebagian besar orang menikah tujuan adalah mencari kebahagiaan. ini tragis dan menyedihkan. mereka yang mencari kebahagiaan dalam pernikahannya kemungkinan besar akan gagal.

keyakinan atau mindset seperti ini harus direvisi. karena menyelaraskan kepentingan dan keinginan dua individu yang mempunyai latar belakang berbeda, ini sebuah tantangan besar.

ada sebuah petunjuk hidup yang lebih layak dijadikan acuan. membahagiakan diri sendiri dulu itu lebih utama, baru kemudian menikah untuk berbagi kebahagiaan itu dengan pasangan, keluarga, tetangga dan orang-orang di sirkelnya yang lebih luas.

namun aku pesimis, kodisi ideal ini akan segera terwujud dalam waktu dua ratus tahun.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*