bergaul secara inklusif


sejak berpuluh-puluh tahun lalu, saya sering ke blok m, memang sengaja mengunjungi tempat paling strategis di jakarta selatan itu atau sekadar mampir transit untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain sesuai tujuan.

biasanya saya ke tempat ini untuk menonton bioskop ( sebelum pandemi), bertemu teman, duduk-duduk di warung kopi di tengah pasar atau mengeksplor kuliner yang nggak habis-habis. mulai dari warung-warung di kaki lima, lesehan, resto di mal, sampai kawasan little tokyo yang berisi deretan warung jepang.

asyik lho mencoba warung-warung yang setiap minggu nyaris ada yang baru. bisnis di tempat ini sungguh sangat dinamis. tumbang satu, muncul warung baru, begitu seterusnya.

namun saya tak pernah mengunjungi kawasan “kuliner toba” yang tempatnya cukup tersembunyi, di food court rubanah blok m square. kira-kira apa yang ada dalam pikiran orang-orang ketika mendengar “kuliner toba”? pasti tak jauh dari lapo-lapo lengkap dengan tuak batak atau bir.

sore itu saya (terpaksa) mencoba masuk dan cukup ternganga dengan isi di dalamnya. rupanya, kawasan ini tak hanya berisi lapo-lapo asli medan yang menyediakan menu babi kecap, babi crispy, saksang dengan segala macam variannya, namun juga ada masakan manado, dan juga warung kopi yang asyik buat nongkrong.

saya lalu memesan sop rumput laut, es kopi susu dan ombus-ombus atau lapet, salah satu kudapan khas siborong-borong yang gurih dan legit.

menu-menu ini sungguh berbeda dengan tempat-tempat makan yang mungkin telah seribu kali saya datangi di kawasan ini. biasanya saya hanya makan sebatas sate padang mak sukur, pecel ayam yang sambalnya super pedas, mie ayam kondang, khas wonogiri dan menu lain yang cukup gampang di temukan di tempat lain.

besok-besok saya pasti akan ke sini lagi, mencobai menu-menu lain, sekaligus merayakan keberagaman indonesia yang super kaya.

suasana di tempat cukup ramai dengan protokol kesehatan yang biasa. saya duduk di belakang kerumunan bapak-bapak yang menikmati bir. mereka bercerita-cerita, sesekali memakai bahasa daerah.

saya berkenalan dengan salah satunya, bapak yang sedang makan persis di hadapanku. dia memesan woku-woku dari manado. rupanya dia orang lombok, ntb. begitu dia tahu saya orang solo, dia lalu bercerita tentang daerah-daerah di solo yang menjual “sate jamu”. dia sangat terbuka, ramah dan cepat akrab.

keenggananku selama ini untuk tidak mencoba masuk ke kawasan ini ternyata sangat berbahaya. pikiran-pikiranku sendirilah yang selama ini memenjarakanku, apa yang ada dalam bayanganku ternyata jauh berbeda dengan apa yang baru saja saya alami.

saya lalu teringat sebuah video di youtube yang diposting oleh jakartanicus, 18 oktober 2018. pada postingan ini, pemilik akun menampilkan hasil survei pusat pengkajian islam & masyarakat (ppim) yang dikasih judul pelita yang meredup: potret keberagaman guru indonesia.

henny supolo sitepu, ma, ketua yayasan cahaya guru pada sesi diskusi menyampaikan hal yang sangat tak pernah terduga ada dalam pikiran kita.dia menceritakan, pada sebuah acara “perjalanan” dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lain dia bertemu dengan seorang guru yang baru mengetahui, bahwa orang katolik itu ramah.

karena selama hidupnya beliau memang tidak pernah bertemu atau bahkan bergaul dengan orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. guru itu masih muda, usia 34 tahun dan tinggal di depok.

masih di wilayah depok, saya juga punya cerita yang tak kalah “mengharukan”nya.

teman saya yang berasal dari semarang pernah menceritakan co-workernya terheran-heran dengan dirinya kenapa dia sebagai orang jawa “bisa” beragama kristen. co-worker dia sebenarnya bukan orang biasa, melainkan seorang petinggi sebuah perusahaan.

kenapa ada orang-orang seperti di atas? karena mereka membatasi diri dengan tidak bergaul dengan orang-orang lain yang berbeda pandangan, keyakinan atau latar belakang yang berbeda dengan dirinya. atau mereka benar-benar tidak tahu semata.

hal ini diperparah dengan meyakini beberapa nasehat, pepatah yang beredar di masyarakat yang perlu kita ubah. banyak orang (tua) yang menghembus-hembuskan nasehat, untuk berhati-hati dalam memilih teman.

beberapa yang sering kita dengar, “kalau kau bergaul dengan penjual parfum, kamu akan kecipratan wanginya. kalau bergaul dengan orang sukses kau akan ikut sukses. lainnya adalah “anli mar’i la tas’al, was’al an qoriinihi fainna .

dan orang jawa punya gong penutup, ojo cedhak kebo gupak, yang kurang lebih artinya jauhilah orang-orang yang penuh kotoran.

saya kira nasehat itu seperti sarden yang berderet rapi di pasar hyper, ada masa kadaluwarsanya juga. info ini hanya berlaku pada masa lalu.

hari gini ketika informasi mendatangi kita, bak air bah tanpa bisa kita bendung, kita kita harus lebih terbuka pada semua hal, yang baik maupun yang dianggap buruk.

kita harus bisa bergaul secara inklusif, lintas budaya, gender, keyakinan dengan siapa saja. menyambut dengan tangan terbuka orang-orang yang punya latar belakang yang beragam dari seluruh penjuru dunia yang masing-masing punya karakter unik, tanpa prasangka buruk.

dalam hal ini kita sangat diuntungkan tinggal di negari yang punya keberagaman yang banyak.

kenapa kita harus bergaul secara inklusif, karena dengan mengenal mereka bisa memperkaya pengalaman yang bisa dijadikan modal untuk mempermudah kolaborasi dalam mencari solusi-solusi yang kita hadapi sehari-hari.

alih-alih mengikuti nasehat lama tersebut, kenapa kita tidak saja mencontoh ungkapan yang sama-sama lama nan klise yang menggambarkan tanaman teratai: meski dia hidup dalam kubangan got yang berbau busuk, ia tetap mampu menghasilkan bunga yang cantik?

jadi bergaul secara inklusif akan membuat kita lebih kuat dan kaya akan pengalaman-pengalaman baru yang membuat hidup lebih excited setiap harinya.

berani mencoba?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*