ritual mudik lebaran yang dipaksa menjadi masa lalu

pulang kampung, bagi perantau adalah tugas suci. kewajiban ini lebih penting dari semua hal yang bisa dilakukan di tanah rantau.  beberapa perantau yang berprofesi sebagai pedagang atau pekerja informal lain, mengumpulkan uang selama 11 bulan hanya untuk dihabiskan saat merayakan lebaran di kampung, dengan segala motivasinya.

betapa hari raya idul fitri adalah segala-galanya bagi mereka

seperti yang lain, saya setiap hari raya lebaran juga mudik, pulang kampung ke tanah kelahiran meski berseliweran suara-suara di sekitar yang berusaha menghadangku: mudik, kayak pembantu saja. atau suara yang lain, ngapain pulang lebaran, lebih capek, boros dan macet (saat itu).

sebenarnya pada bulan-bulan yang lain saya juga sering mudik, tapi pulang kampung, mudik pada hari raya lebaran tetap merupakan momentum yang mempunyai makna berbeda, sangat berbeda, tak bisa dibandingkan dengan kepulangan di hari lain.

di hari raya yang fitri itu, semua orang adalah orang baik. setiap ketemu orang, siapapun, baik saudara atau bukan selalu mendoakan sehabis bersalaman, apalagi para orang-orang yang sudah tua. di hari itu mereka tulus berharap bahwa saya dan juga orang-orang yang ditemui bisa segera tercapai apa yang diinginkannya. terutama soal jodoh dan karir.

momen ini begitu berharga, kejujuran dan ketulusan doa mereka tak bisa dinilai apalagi dihargai. hal yang tak akan pernah ditemui saat pulang kampung di hari-hari biasa atau hari raya lain.

jauh-jauh hari sebelum lebaran, saya sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. mulai dari membeli tiket yang bisa dicicil 12 bulan, membuat daftar oleh-oleh apa untuk siapa sampai menyediakan uang kertas yang baru dicetak dari perum peruri buat angpao anak-anak yang datang, baik keponakan yang kemriyek  sampai para anak-anak balita di sekitar rumah.

ritual lainnya adalah membeli baju baru untuk merayakan hari kemenangan dengan salat ied di lapangan atau masjid raya dan berharap dapat pahala. dan setelahnya tidak luoa foto-foto untuk dipamerkan di sosial media. untuk yang ini, tujuannya adalah meraih like dan follower baru.

dan hal penting lain yang juga harus dilakukan sebelum mudik adalah mengosongkan lemari.

selama setahun, entah berapa baju yang terbeli karena berbagai alasan. uniknya nyaris semua pembelian itu bukan karena butuh, tapi hanya karena sedang ada diskon, ikut-ikutatan teman atau bahkan karena alasan untuk bikin konten agar tampak instagenik.

baju-baju itu terhampar di lemari yang pengap, tak tersentuh. kalau kita perhatikan, meski kita punya banyak baju, yang sering kita pakai ternyata hanya yang itu-itu saja. lainnya rasanya tidak akan kita pakai lagi sampai kapanpun. karena selama setahun ke depan akan terus ada sale, diskon di hari raya belanja online. tentu saja  tak pernah bisa menolaknya.

baju-baju yang sudah terseleksi ini bisa langsung dipack dan dipaketkan ke kampung. di tempat baru ini, nasib mereka lebih baik, karenal ebih  bermanfaat daripada selama ini yang hanya nganggur, warnanya memudar, bahannya mengusut dan merapuh ditelantarkan.

dan momen yang paling mendebarkan adalah ketika sungkem dengan orangtua, minta maaf atas segala kesalahan, juga berkumpul dengan keluarga besar, reuni dengan teman tk atau sd atau smp. ramadan adalah hari yang super sibuk, tapi menyenangkan.

selama di kampung, kita bisa terhubung kembali dengan kerabat yang paling dekat hingga yang super jauh. momen tiap tahun itu menjadi mirip pembacaan pohon keturunan, sehingga makin jelas dan hapal siapa-siapa kerabat kita, yang ujung-ujungnya orang sekampung adalah saudara semua.

lalu tanpa diduga sama sekali, pandemic corona covid 19 menyerang. semua bangunan rencana yang telah dipersiapkan dengan baik dan harapan-harapan yang telah didoakan ambyar, pecah berkeping-keping dan mustahil untuk bisa dikembalikan seperti semula.

semua momen yang dilalui dengan penuh emosional itu kini tinggal sejarah. kita hanya bisa menyimpan rapi tentang perayaan lebaran masa lalu di dalam tempurung kepala.

hopeless? patah semangat? tentu tidak. meski tanpa mudik, merayakan hari raya bisa dengan cara baru. tentu saja tantangan dan penyesuaian harus terpaksa dilakukan. karena pandemic, semua malah mendapatkan hikmah, kalau kita melihatnya dari sisi positif.

silaturahim bisa dilakukan dengan video call atau zoom. hadiah lebaran, angpao untuk keluarga bisa langsung ditransfer. kalau mau eksis dan pamer di sosmed, masih bisa tercover. namun apakah perjumpaan secara virtual ini mampu menggantikan pertemuan physical?

apakah jabat tangan bisa tergantikan dengan dadah-dadah melambaikan tangan. bagaimana dengan sungkem ke orangtua, ayah ibu, kakek nenek?

tentu saja tidak akan tergantikan, namun ritual dan kebiasaan yang telah eksis selama ribuan tahun itu memang mau tidak mau harus ditinggalkan, berganti dengan cara baru yang lebih aman. pelan-pelan orang akan menyesuaikan,

ketika bertemu tidak akan bersalaman lagi. duduk di keramaian tidak bisa lagi berdempet-dempetan, naik bus tidak bisa uyel-uyelan lagi, dan semua orang akan sedikit berbicara dengan mulut karena tertutup masker.

goncangan, penolakan, protes akan ada. mereka adalah orang-orang konservative yang susah menerima hal baru, melihat teknologi darisi sisi negatifnya atau orang yang selalu menganung-agungkan masa lalu  dan gagal move on.

akhir-akhir ini kita masih sering mendengar dan melihat para perantau yang memaksakan diri pulang kampung menjelang hari raya, meski pihak yang berwenang telah menghimbau untuk tidak mudik. mereka dengan kreatif mengelabui petugas. misalnya dengan menyewa mobil yang diderek dengan truk dan mereka bersembunyi di dalamnya.

kerinduan untuk pulang kampung atau mudik tak akan pernah pudar bagi banyak orang. karena di kampung para perantau bisa mengenang romantisme masa lalunya, saat dirinya masih menjadi dirinya sendiri,

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*