stop forward pesan di grup wasap, temanmu sudah terima lebih cepat

pagi jam lima, bukan lagi kokok ayam jantan yang membangunkanku dari mimpi indah, namun bunyi-bunyian mekanis pilihan kita sendiri, tang-ting tung dari beragam grup wasap yang saya ikuti. mulai dari alumni tk dharma wanita desa ronggojati, grup keluarga dari pihak ayah, dari pihak ibu, grup alumni karang taruna, pecinta burung, perjodohan, anti nyinyir, penyuka budaya, keyakinan, futurism dan lainnya.

dari beberapa grup wasap yang aku ikuti itu, kesamaannya dua.  yang pertama, mereka gemar menebar kebaikan dengan memposting doa-doa pagi dalam format teks, foto dan video. hal ini menambah rutinitas pagi saya yakni menyapu ruangan dengan menyentuh menu clear chat.

yang kedua, anggotanya juga gemar barbagi info yang dianggap paling penting, dirinyalah orang  pertama kali mengetahu info terbaru tersebut lalu memforwadnya. entah informasi itu benar atau tidak, mereka agak abai. bahkan mereka bisa jadi tak pernah membacanya sama sekali.

fitur forward di aplikasi wasap ini mungkin fitur yang paling banyak dipakai daripada fitur posting konten yang ia ciptakan sendiri. alih-alih menjadi creator, budaya membaca saja masih belum terbiasa.  padahal perintah iqra-iqra iqra telah berkumandang sejak 1400 tahun yang lalu.

teman-teman pasti pernah menemui pengalaman-pengalaman unik, ketika salah satu anggota grup memposting kabar dusta lalu ketika diingatkan mereka malah membela diri dengan segala argumentasinya.

sebuah peristiwa menggelikan juga pernah aku alami di sebuah grup alumni tk. salah satu member anggota grup memposting soal himbauan ritual yang harus dilakukan ketika tanggal sekian. info itu jelas hoax, tidak benar. saya mengingatkannya dengan memberikan link dari media yang menerangkan kehoaxan info tersebut.

sang pemosting rupanya tersinggung dengan sikap saya. dia mengerahkan saudara-saudaranya untuk membelanya. masalah kemudian bergeser bukan masalah hoax atau tidaknya, tapi lebih ke soal kesopanan dan hormat menghormati.

asal forward tanpa mengecek dan mengecek lagi ini tak hanya terjadi di salah satu grup wasap. kebiasaan ini terjadi di segala lini, tidak memandang kelas sosial, ekonomi usia, jenis kelamin, dan pendidikan.

di grup lain yang isinya professional semua, pernah seseorang memforward pesan berantai soal manfaat daun papaya untuk menyembuhkan kanker. saya mencoba menjelaskan bahwa info tersebut tidak benar berdasarkan ulasan dari media yang kredibel. lalu dia membela diri dengan mengatakan, dia tidak peduli hoax atau bukan tapi ia lebih percaya khasiat obat herbal yang telah menjadi obat alami sejak zaman purbakala. belum cukup, ia menuduh info yang saya sodorkan itu adalah bentuk dukungan kepada pabrik yang memproduksi obat. dia beropini tanpa bukti.

kegemaran  memposting informasi yang dianggapnya a1 ini tampaknya juga terjadi di kalangan para pehobi. seorang penyuka ikan pernah memposting tip dan trik yang sempat viral beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa tepung terigu mampu segera meredam panas minyak goreng di kulit.

begitu ada yang membalas bahwa hal tersebut hoax, dia mengeles dengan balik bertanya, memang kamu sudah pernah mencobanya langsung? info ini sebenarnya sudah agak lama dan banyak media telah mengulasnya. tentu saja dia pasti tidak mencek rechek dulu.

kempat adalah soal bawang merah yang dianggap bisa mengusir virus corona. setelah dibantah dengan penjelasan dari link sebuah media yang kredible, dia tetap ngotot bahwa apa yang barusan dia posting tetap bermanfaat karena bisa membantu petani bawang merah  dagangannya lebih laku. dia tak pernah menyaring info sebelum men-sharingnya.

dan yang paling parah adalah seorang ibu yang mukanya merah padam ketika pesan yang disampaikan ke grupnya dianggap hoax atau salah.  ia memforward pesan yang mengatakan, makanan kaleng dari kedutaan mana itu mengandung virus. dalam pesan itu penulis mewanti-wanti agar tidak mengkonsumsi makanan kaleng impor tersebut.

ia langsung men-dm (direct message), “tak kusangka kau berani posting seperti itu kepada ibu. dasar kelakuan.”

padahal kalau mereka jeli, menandai berita atau informasi yang kemungkinan besar hoax itu mudah. biasanya info yang disebarkan itu tak menyebutkan siapa pengirimnya, taka da kapan dan dimana peristiwanya, infonya terlalu bombastis, dramatis dan to good to be true. selain itu biasanya info tersebut memojokkan satu pihak, memprovokasi dan menyebar kebencian. jika dari media atau web, nama web tersebut  biasanya tidak familiar dan tidak popular.

beruntung di setiap grup selalu ada orang yang berani mempertaruhkan dirinya untuk dibenci demi kebenaran. bayangkan jika pesan-pesan tersebut langsung diiyakan, dianggap benar oleh anggota yang lain. hoax berpotensi memunculkan perang saudara, bunuh-bunuhan karena salah informasi.

kenapa banyak orang yang suka memforward pesan yang ia terima?

ada beberapa alasan, yang pertama adalah karena mereka gaptek. orang-orang dalam kelompok ini biasanya kurang mengikuti perkembangan teknologi kekinian yang sedang trend. sehingga mereka kurang maksimal dalam memahami karakter medium ( dalam hal ini aplikasi pesan whatsapp).

bagi generasi baby boomer  biasanya gagal move on dari era konvensional, era kejayaan masa koran dimana dia masih menganggap masyarakat hanya bisa menerima info dari sumber yang terbatas dan searah.

kedua adalah karena bisa jadi kurang kreatif saja, ia tak bisa membuat konten sendiri. baik itu berupa teks atau gambar apalagi video atau animasi. membuat konten, apalagi kreatif perlu latihan terus-menerus yang tak pernah berakhir.

ketiga adalah keinginan untuk menjadi informan a1. setiap orang pasti mengalami momen yang menyenangkan ketika ia dianggap sebagai orang pertama yang paling mengetahui info penting. dan kebahagiaan ini membuat seorang kecanduan.

memforward pesan tanpa mencek dan ricek meski infonya benar pun bukan berarti tak ada risiko. pesan yang diforward ke seluruh teman-teman di grup biasanya sudah diterima lebih dulu oleh member grup, apalagi content-konten generik seperti guyonan, joke yang menjadi placebo dalam menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.

memforward pesan, jika tidak hati-hati hanya akan mempermalukan diri sendiri.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*