hidup selamanya bersama corona

 

tentu saja banyak yang cemas, marah dan kecewa , karena kebiasaan nyamannya terganggu dan lebih dari itu kita semua juga merasa ancaman kematian terasa lebih real dibanding sebelum ada pandemic covid 19 ini.

padahal sebenarnya sama saja, ancaman penyakit dan kematian sebelum adanya pandemi ini juga tak kalah misteriusnya. kematian seperti terus mengintai kita kapan saja, di mana saja dengan alasan apa saja.

lalu kita berusaha mencari aman, bersembunyi dari serangan makhluk tak kasad mata telanjang ini dengan berbagai cara, mulai dari memakai masker, rajin mencuci tangan, kemana-mana membawa hand sanitizer, berdiam di rumah dan menjauhi kerumunan, mengkonsumsi temu lawak, jahe juga vitamin c untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

selain melakukan pencegahan secara fisik, beberapa orang juga melakukan laku spiritual agar terhindar dari pageblug ini. di kalangan pecinta wastra ada beberapa motif kain yang dianggap mampu menolak wabah atau bala.

Misalnya di wilayah tulung agung, jawa timur mereka mencipta batik dengan motif gringsing. gringsing berasal dari kata gering (sakit) dan sing (tidak). kain dengan motif gambar yang khas ini dipercaya masyarakat setempat bisa menolak bala atau menyembuhkan orang sakit. jika ada anak kecil yang sakit, ibunya akan menggendong atau menyelimutkan kain batik tulis motif gringsing.

konon raden wijaya saat membuka alas tarik untuk membangun kerajaan, ia memberikan kain batik gringsing kepada para pasukannya. kain batik tulis gringsing ini diyakini mampu membuat setiap pemiliknya kebal dari semua penyakit. cerita ini berkembang sampai sekarang kebiasaan itu masih terus dilakukan.

di bali pun ada tenun ikat yang namanya tenun gringsing, tenun dengan teknik double ikat ini sampai sekarang hanya tetap eksis di bali, jepang dan india. kain tenun gringsing dengan pewarnaan alam ini juga diyakini mampu menolak bala. biasanya tenun gringsing dipakai sebagai ikat kepala atau kemben bagi perempuan.

di jawa, selain batik, terdapat tembang atau lagu yang juga diyakini sebagai penolak bala. salah satunya adalah tembang kidung rumekso ing wengi atau mantra wedha. ada juga beberapa orang pecinta budaya jawa menggelorakan semangat untuk menyanyikan tembang macapat maskumambang dengan harapan jika mendengarkan tembang magis itu hati terasa tenang dan penyakit pun tak ada yang berani mendekat.

sampai kapan perilaku kita yang super hati-hati ini akan bertahan? sampai virus coronya enyah dari muka bumi. bukankah virus itu juga pintar, terus bermutasi menyesuaikan diri dengan kondisi baru?

bisa jadi kita selamanya akan hidup dengan virus covid 19 ini. ratusan orang-orang meninggal karena terpapar virus corona, mayoritas mereka sebelumnya telah mempunyai riwayat penyakit yang kronis. ada yang mengatakan virusnya tidak ganas, tapi tingkat kesehatan mereka yang terlalu buruk.

corona telah memaksa kita melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan manusia sehari-hari selama hidupnya. dengan pandemic ini memberikan pencerahan agar kita bersikap lebih ekstra hati-hati dalam melakukan semua hal karena efeknya fatal baik buat diri kita sendiri maupun orang lain secara langsung, tanpa ditunda.
dan ini bisa dilakukan dalam kondisi selalu keadaan berkesadaran penuh. mulai dari apa yang kita pikir, ucap, dan lakukan.

berkesadaran penuh itu misalnya ketika kita makan nasi goreng di warung bang ipin. sebelum memutuskan memilih menu nasi goreng, kita harus menyadari alasannya kenapa memilih nasi goreng, di warung bang ipin? sebenarnya apa efeknya pada tubuh kita. apakah organ-organ tubuh kita tidak terganggu dengan asupan nasi, telur dadar, minyak dan terasi?

kenapa tidak memilih pecel lele, mcd atau saladstop misalnya.

kurang lebih sepuluh menit, pesanan datang. dalam waktu sesingkat itu, kita sudah bisa langsung menikmati nasi goreng enak. untuk bisa menikmati sepiring nasi goreng itu ternyata perlu kolaborasi ratusan bahkan ribuan orang dengan skill khususnya masing-masing. dengan mempunyai kesadaran seperti itu kita tak akan murka jika rasa nasi goreng tidak seperti yang diharapkan.

saat selalu dalam keadaan berkesadaran penuh, kemungkinan kecil kita melakukan kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.

sayang saat ini banyak yang kurang menyadari soal berkesadaran penuh ini, baik saat bekerja, berlibur atau sedang beribadah. kita pasti pernah merasakan setiap hari bekerja rutin, dari pagi dan tanpa terasa tiba-tiba sudah malam. rutinitas yang tak berkesadaran dan hanya merespon ini membuat perasaan jenuh dan bosan, apalagi kalau pekerjaanya bukan bidang yang disukai. lama-lama bisa menjadi zombie.

pasca corona, tak akan kembali kondisi normal yang pernah kita rasakan sebelumnya. semua sudah tak sama dan tak akan pernah sama. hanya dengan beradaptasi kita bisa survive dan melakukannya dengan tingkat kesadaran penuh.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*