cinta yang hilang pada pasangan, bisakah dibangkitkan kembali?

sebaga single, saya sering diiming-imingi oleh para tetua (konvensional) soal indahnya perkawinan.  mereka memberi petuah atau ceramah soal pernikahan layaknya kepada anak kecil.

kata mereka, dngan menikah, hidup akan lebih teratur, punya tujuan dan tentu saja bahagia tak terkira ketika mempunyai anak yang akan meneruskan keturunan yang nantinya akan terus mendoakan orangtuanya agar masuk ke surga.

namun sayang, mereka tidak pernah mengerti apa yang ada di dalam pikiran saya. bahwa sejak mengenal gambar bokep dan stensilan, saya tidak pernah mempercayai hubungan perkawinan adalah sebuah pelarian untuk mewujudkan hidup lebih bahagia.

tujuan itu mungkin memang tercapai, mungkin juga tidak samasekali. namun sebagai warga negara berflower dengan adat ketimuran yang kuat, ketidakbahagiaan perkawinan sering dianggap aib. sehingga tak jarang banyak pasangan menikah yang terus mencitrakan kehidupannya seindah postingan instagram.

jarang sekali ada seseorang, bahkan teman dekat yang secara jujur menceritakan hubungan perkawinan yang mengalami pasang surut, bahkan tsunami, kecuali ita sembiring.

perempuan yang novelis, public speaker, aktris, sutradara teater, filmmaker yang juga seorang istri ini menceritakan perkawinan yang dalam sebuah buku terbarunyam “ear and eye”.

ini adalah buku ke -21 yang ia terbitkan. dalam buku ini ita sembiring menjabarkan kehidupan rumah tangga secara jujur, terbuka dan realistis. tak hanya cerita soal yang manis, romantis dan membahagiakan, namun dalam berumah tangga, juga banyak masalah yang muncul dari dua kepribadian yang mempunyai latar belakang berbeda.

mulai cinta, finansial dan juga hal yang paling sensitif: religi. selama hampr 20 tahun menikah, ita sembiring tentu telah mengalami banyak hal dalam menciptakan keharmonisan keluarga. karena pengalaman inilah ia sering diundang dalam seminar parenting di berbagai kota.

dalam bukunya ini, ia mengaku selama 20 tahun menikah, ia mengalami 13 tahun masa-masa indah dan 6 tahun harus “merana”. di dalam buku itu juga dibahas apakah cinta yang hilang bisa dibangkitkan kembali?

selain itu apakah perlu melakukan kebohongan agar tak menyakiti hati pasangan?

menurutnya, bohong di awal pernikahan bertujuan menyelamatkan hati pasangan. bohong di tengah perjalanan usia pernikahan bertujuan menyelamatkan diri, bohong di masa tua pernikahan bertujuan menahan diri agar tidak berpisah setelah sekian lama bertahan

“apakah bohong jalan keselamatan, “tanyanya.

dalam mencari solusi setiap masalah pernikahannya ia selalu mengandalkan campur tangan tuhan. ia menceritakan peristiwa mengharukan yang semuanya bisa diselesaikan secara cukup ajaib, mirip sinetron televisi yang kisahnya tampak serba kebetulan.

buku ini bisa jadi referensi bagi pasangan menikah  menciptakan kehidupan rumah tangga yang romantis dan bagaimana menemukan solusi saat menghadapi masalah yang kadang mengejutkan.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*