dua malam di shah alam

 

kemalay3

malaysia, negeri serumpun yang merdeka lebih lambat dari negara indonesia tercinta, namun infrastrktur fisik di sana lebih maju. misalnya kereta rel listrik yang menghubungkan para pekerja ke kantor-kantor mereka.

tiap penumpang diberi kebebasan membeli tiket berlangganan atau tiket sekali pakai. untuk tiket sekali pakai, mereka menggunakan koin yang terbuat dari plastik yang bisa dibeli dengan mesin pintar.

kita tinggal memencet kemana arah yang dituju. tak perlu lagi ada penjaga loket. jJika kita memasukkan uang lebih, mesin otomatis akan mengeluarkan kembalian sesuai dengan apa yang tertera di layar monitor.

jangan bayangkan kereta ini seperti krl depok-kota yang penumpangnya berjubel. memang ada yang berdiri tapi jumlahnya sedikit. tampaknya penumpang kereta di negeri ini semuanya cool, mereka tak ada yang berebut tempat duduk, bahkan beberapa penumpang lebih memilih tetap berdiri ketika ada bangku kosong.

kemalay

copet? ketika saya nanya ke salah satu penumpang, tak pernah ada copet, tak ada yang pernah kehilangan, tak ada copet yang pernah tertangkap dan dipajang di depan stasiun biar kapok.

turun dari kereta, kami melanjutkan perjalanan memakai bus yang gratis. trotoar-trotoar lebar-lebar, tak ada penjual kaki lima berderet-deret yang sewaktu-waktu lari terbirit-birit ketika ada satpol pp yang pura-pura merazia.

(meski telah dirazia, pemilik gerobak kaki lima masih bisa menebusnya dengan sejumlah uang dan bisa berjualan seperti sebelumnya. lalu satpol pp merazia lagi, pedagang menebusnya lagi. terus berputar dan berputar terus seperti siklus hidup.)

kemalay2

(bersama mukalangka band)

di dalam bus pun tak ada pengamen yang menyanyikan lagu-lagu rohani, atau khutbah vulgar yang endingnya mendoakan agar mereka yang memberinya bisa panjang umur, sehat dan murah rezekinya, atau pengamen yang menteror.

tak hanya dengan kata-kata sadis menyakitkan, memberi seribu dua ribu tak membuat bapak ibu miskin, atau daripada saya merampok atau mencopet lebih baik mengamen, halal dari anda halal buat kami, atau dengan mengatakan barusan ngamen di metromini sebelah tak ada yang ngasih, mudah-mudahan di sini masih ada jiwa-jiwa sosial bapak ibu sekalian.

di dalam bus yang bersih dan tampak baru ini juga tak ada penjual tisu atau minuman botolan. nyaman.

di sependek perjalanan memakai kereta dan bus, tak nampak ada perkampungan kumuh dari bahan-bahan seadanya, seng bekas, kardus atau papan-papan bekas sepeti di pinggir rel atau di bawah jembatan layang. di sini bawah jembatan layang dipakai untuk area parkir, bersih, terawat dan teratur.

kemalay4

(pecinan, petaling)

tak nampak juga gembel-gembel yang tiduran di emperan toko. hanya sekali melihat sosok laki-laki gendut tiduran tanpa alas di petaling. tak Nampak juga pemulung, pengepul sampah. kemana mereka, atau profesi ini sungguh tak ada di sana?

bantaran kali sungai sudah dibeton, tak ada sampah berserakan, tak ada sampah yang mengapung juga. sehingga tak ada aroma yang menusuk hidung. air sungai memang keruh namun tak sampai berwarna hitam seperti kali sunter yang airnya dari limbah pabrik.

orang-orang di sini juga lebih tertib berlalu lintas, tak ada penyeberang jalan yang semena-mena melewati jalur yang dilarang. tak ada motor atau sepeda yang melewati jembatan penyeberangan, tak ada sosok manusia yang menyeberang di bawah jembatan penyeberangan juga.

dan di kota ini, haram bagi pengendara untuk membunyikan klakson. memencet klakson artinya mereka murka. jadi tak ada suara klakson di jalanan.

tetangga, apapun yang dimilikinya memang tampak lebih menarik.

Share Button
6 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*