mereka yang menguasai peradaban masa depan

texting-1490691_640

wajar saja, jika sampai hari ini masih banyak orang di sekitar kita yang tergagap-gagap dengan perkembangan teknologi yang seperti berlari ini.

mereka adalah generasi x, para digital imigran yang separuh masa lalunya hidup dalam era dunia sebelum internet tiba. misalnya mereka masih suka menitip salam kepada sahabat dekatnya padahal kita semua sudah terhubung atau mereka pamit di sosial media ketika mereka akan bepergian keluar kota, atau mereka sering menyebarkan broadcast message di gurp yang mereka ikuti, atau mereka seperti baru saja bertapa dalam gua ketika tiba-tiba dia bertanya atau membahas masalah yang telah “selesai” beberapa jam lalu. dan masih banyak contoh kegagalan-kegagalan beradaptasi di era internet ini.

keberadaan internet, memang mengubah seluruh perilaku kehidupan manusia di atas bumi secara frontal. kita tak bisa menolak, kita harus menyesuaikan diri jika tak ingin buta internet sehingga hanya bisa menjadi penonton, tak bisa mengambil peran dalam menciptakan sejarah.

ini berbeda dengan generasi milenial. fenerasi yang begitu lahir mendengar suara adzan dari ipod. mereka adalah anak-anak yang tak punya beban masa lalu seperti orangtuanya.

anak-anak ini tak paham lagi soal kaset, piringan hitam atau pemikiran-pemikiran orangtuanya yang konvensional dan menggapnya tak relevan lagi.

tak seperti orangtuanya yang akses informasinya terbatas, generasi ini hidup di tengah-tengah lautan informasi yang bak air bah. mereka tak perlu mencari, sebaliknya informasi tanpa diundang mendatangi mereka setiap nafas yang terhembus.

karena hal itu mereka yang berperan dalam mencipta peradaban di masa depan itu mempunyai karakter yang unik. seperti apa berikut 6 karakter generasi milenial yang suka luput dari pengamatan banyak orang:

1.    tak sabar menunggu

karena hidup di tengah informasi yang cepat basi ini,  mereka sudah terbiasa dengan hal yang serba cepat. karakter ini bisa dilihat saat mereka sedang berselancar di internet. misalnya saat mengkonsumsi berita, mereka ingin mengetahui suatu peristiwa secepatnya kalau bisa live.

begitu juga saat mereka berbelanja secara online. sayang sampai saat ini masih banyak penjual online konvensional yang tak menyadarinya. contohnya mereka berjualan tanpa menyebutkan harga, ukuran atau keterangan lain yang mendukung produk tersebut sehingga calon pembeli tertarik,

para pedagang malah menyuruh meng”inbox” untuk keterangan lebih lanjut. generasi milenial tak punya waktu, untuk itu. andai punya waktu dan mau bertanya, belum tentu yang ditanya langsung merespon saat itu juga.  ini sangat memboroskan waktu, tidak efisien.

2.    tak ada kesetiaan

dalam mengkonsumsi media misalnya, mereka tak seperti generasi sebelumnya yang punya kesetiaan dan keloyalan pada media tertentu dengan cara berlangganan , generasi ini lebih cair, lebih mudah berpindah dari satu media ke media lain. apalagi jika suatu meda atau produk tersebut tak melakukan inovasi-inovasi kreatif yang makin mendukung kenyamanan mereka.

apakah ketaksetiaan ini juga berlaku pada pasangan, entahlah.

3.    simple dan mudah, tak ada kepemilikan, spotify,

anak-anak yang hidup di era yang telah terhubung ini tak lagi punya pemikiran atau mindset agraris seperti pendahulunya yang lebih menekankan pada kepemilikan.  sampai hari ini pun masih banyak yang menganggap mempunyai rumah atau mobil itu lebih keren daripada yang tidak.

generasi milenial menganggap semua itu tak efektif  dan efisien, merepotkan dan biayanya besar. mereka tetap ingin menikmati semua kenyamanan itu, namun dengan cara menyewa atau sharing dengan temannya.  mereka tak lagi mempunyai koleksi dvd atau piringan hitam tapi mereka bisa mendengarkan musik sepanjang waktu dari spotify atau yonder misalnya.

mereka ingin tak punya kepemilikan, namun punya akses ke semua hal.

4. meniadakan struktur yang birokratif

generasi ini mungkin bisa dicap generasi yang “kurang ajar” bagi oang-orang  tua yang belum bisa move on dari masa lalu. karena dalam hal apapun, mereka sangat menjunjung kesetaraan, ke-demokratis-an, keterbukaan dan kejujuran.

sistem kerja yang mereka inginkan bukan seperti yang sekarang masih banyak  diberlakukan di perusahaan yang “top down” , menunggu perintah atasan dan birokratis, namun lebih pada kolaborasi dari berbagai divisi untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan cara yang riang dan menyenangkan.

5. super kreatif, mandiri dan gue banget.

karena mereka bisa bebas mengakses informasi, menjadikan mereka bisa belajar tentang apapun dan dari manapun sehingga mereka sangat percaya diri dengan ide-idenya yang mungkin dianggap tak masuk akal bagi orang lain.

mereka ingin mandiri dan ingin mewujudkan passionnya sehingga mereka tak tertarik lagi menjadi karyawan di sebuah perusahaan multinasional yang bonafid sekalipun yang tiap hari harus ke kantor, masuk jam 8 pulang jam 17, absen tiap datang dan pulang dengan jegrekan,  miting setiap hari, menunggu 3 bulan untuk bisa diperpanjang atau dihentikan, menuggu setahun untuk bisa menjadi karyawan tetap atau kontrak tidak diperpanjang, ingin liburan harus itung-itungan cuti dan seterusnya yang dianggap ribet oleh mereka. Mereka ingin semuanya sederhana dengan flow yang efektif dan efisien.

6. berpikiran global, isu nasionalisme sudah basi

mungkin banyak yang tak melihat bahwa  generasi milenial  bermindset global. mereka sudah agak abai dengan isu-isu nasionalisme (konvensional) dan kewarganegaraan berdasarkan geografis.  mereka berkelompok, membuat “negara virtual”nya sendiri berdasarkan kesamaan minat dan passion mereka dalam bidang tertentu.

mereka saling berkolaborasi dengan generasi milenial lain dari belahan dunia manapun. mereka bisa tinggal di mana saja tanpa harus menetap di suatu tempat, di suatu negara untuk menghabiskan sisa hidupnya yang masih lebih panjang.

ada yang mau menambahkan, silakan.

Share Button
15 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*