nasib petani tembakau dan gadis yang mencari bapaknya

15082016-genduk

membaca gendhuk-nya sundari mardjuki adalah sebuah perjalanan ke kampung halaman. mengenang romantisme masa lalu yang begitu-begitu saja sebenarnya. namun banyak orang yang tak bisa melepaskan ingatan masa lalu yang biasa dan tak ada kejutan itu.

novel yang diterbitkan gramedia ini sebenarnya cukup menjanjikan pada awalnya. pembaca akan terpesona dengan pengenalan karakter, seorang perempuan yang lahir pada sekitaran tahun 65 yang identik dengan pergolakan politik.

dengan setting mirip ronggeng dukuh paruk-nya ahmad tohari yang telah diterjemahkan ke dua puluhan bahasa: daerah miskin, terpencil jauh dari keriuhan kota. kesamaan kedua, tokoh utamanya adalah seorang perempuan, gendhuk yang tak pernah mengenal bapaknya.

jika membadingkan dengan novel best seller itu berlebihan. meski sama-sama fokus pada tokoh perempuan, dalam gendhuk. novel pertama sundari itu memang cukup enak dibaca dan memberikan imajinasi eksotis, khususnya bagi generasi milenial yang tak pernah mempunyai pengalaman hidup di kampung, apalagi di sebuah keluarga petani tembakau di parakan, jawa tengah.  atau para hipster yang hidupnya tak pernah menginjak bumi.

kemiskinan memang selalu indah dalam fiksi.  hanya saja dalam gendhuk cara menyajikannya nyaris tak berbeda dengan novel-novel best seller tahun 80an dengan mengawali paragraf utamanya dengan situasi dan kondisi yang dialami sang tokoh.

sepanjang novel, minimal lima kali sundari mengawali kalimatnya dengan matahari terik, udara dingin atau hal-hal yang mirip dengan itu. sebagai penulis mestinya bisa menggantinya dengan deskripsi yang belum pernah dipakai oleh penulis lain.  sayang sekali, padahal tema yang diusung sangat menarik, seorang gadis kecil  berdua bersama ibuny, hidup miskin dan diasingkan keluarga besarnya yang juragan tembakau yang kaya raya.

dalam novel gendhuk ini, sundari juga menggambarkan kehidupan para petani tembakau. bagaimana para petani memperlakukan tembakau dari bibit hingga masa panen.  para petani yang miskin itu harus mengutang pada rentenir untuk membeli bibit, tentang permainan harga yang dikendalikan oleh beberapa mafia kampung dan kelucuan yang dialami warga setelah panen raya.

yang menarik juga, gendhuk yang masih sekolah sd itu diam-diam menyukai teman sekolahnya yang ganteng dan anak orang kaya.

ada beberapa topik yang berlomba-lomba minta perhatian: gendhuk yang mencari bapaknya, permasalah petani yang rumit dan kisah cinta gendhuk dan teman sekampungnya.  andai tema yang dikembangkan lebih fokus pada salah satu topik saja, bisa jadi novel ini akan mengikuti jejak ronggeng dukuh paruk.

 

Share Button
3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*