butet manurung: harus belajar, tapi tak harus formal

butet-manurungok1(gambar diambil dari http://blog.beproudofindonesia.com/id/2015/05/butet-manurung/)

keputusan yang diambil Saur Marlina Manurung, perempuan yang lahir di kota gemerlap jakarta ini sungguh membuat banyak orang bertanya-tanya.  perempuan yang namanya lebih populer dengan butet manurung ini hengkang dari “pusat peradaban” dan memilih pergi ke tengah hutan, mendidik anak-anak rimba yang sering distereotipkan miskin, terbelakang, eksotis, tak beragama, bodoh.

padahal menurut butet, semua stereotype itu salah besar. orang-orang modern, orang-orang kota tak pernah tahu seperti apa mereka kebiasaan, adat dan budaya mereka sebenarnya, terutama mindset tentang hidup.

siang itu, selasa 23 agustus 2016 pukul 14:00 wib butet hadir di sebuah acara talkshow, inspirato yang dihadiri seratusan orang. penampilannnya sangat etnik,memakai kaos oblong dengan logo sokola rimba dan rok dari kain tenun ikat maumere motif bintang.

ia juga mengenakan kalung dengan nuansa etnik. rambutnya dibiarkan tak tertata rapi, namun ia sangat ramah ketika nyaris semua peserta talkshow mengajaknya berfoto bersama.

butet memulai petualanganya dirimba sejak 17 tahun lalu. ia mengawalinya di pedalaman hutan di jambi. bukan hal yang mudah untuk bisa mendekati suku-suku “terasing” yang tinggal di tengah hutan belantara itu.

sebagai orang asing, para suku pedalaman itu mencurigainya, penghuni hutan itu menganggap orang asing adalah ancaman.  makanya pada saat pertama kali bertemu dengan mereka, butet pernah akan dibunuh, karena dianggap membuntuti seorang laki-laki yang sudah bersuami.

tak hanya tantangan adat yang berbeda, namun juga tantangan alam liar yang kadang tak terduga. butet harus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain dengan berjalan kaki berhari-hari. ia harus menaiki tebing, menuruni lembah dan menyeberangi sungai yang arusnya deras. pernah juga dikejar-kejar beruang dan harus bisa memanjat pohon.

komitmennya pada dunia pendidikan anak rimba sungguh mengagumkan.  ia kemudian mendirikan “sokola rimba” di pedalaman hutan di jambi.

anak-anak rimba ini sebenarnya juga telah mempunyai sekolahan dengan sistem yang dibangunnya sendiri. dari kecil mereka juga diajari hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan mereka di hutan sesuai tingkat usianya.

level anak, dia harus bisa menangkap burung, level lebih tinggi harus bisa menangkap kelinci, babi hutan dan seterusnya. puncaknya, seorang anak rimba telah dianggap lulus ketika dia telah bisa memanen madu di sebuah pohon yang tingginya ratusan meter.

menurut butet, anak-anak rimba selalu menanyakan apapun yang diajarkan olehnya sebagai guru. misalnya kenapa harus bisa berhitung dan membaca ? mereka akan menolak hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kehidupannya sehari-hari. ontohnya mereka menolak belajar menghafal  tata surya, “kalau dah hafal nama planet-planet, apakah bisa lebih mudah menangkap babi hutan, “ tanyanya.

ada banyak perbedaan menarik dan lucu soal kebiasaan dan pemikiran mereka soal hidup.

orang modern merasa prihatin dan kasihan mereka tinggal di hutan tanpa rumah, orang rimba akan merasa kasihan dengan orang kota yang dikandangin di tempat-tempat sempit, bergerak saja susah.  sementara orang rimba menganggap seluruh area hutan adalah rumahnya.

orang modern tidak akan memahami kenapa orang rimba tak berpakaian, atau hanya memakai cawat. hal itu sama tak pahamnya orang rimba yang melihat orang modern memakai jin, yang dianggap akan menyulitkan aja ketika mereka lari dikejar harimau atau menyeberang sungai.

orang modern bisa dengan mudah memasak makanan yang disukainya, opor, sayur bening, tempe goreng atau pepes ikan, macaroni panggang, kue-kue. orang rimba menganggap hal itu terlalu rumit, mereka makan apa yang ditemui karena itulah pemberian tuhan hari itu.

anak-anak kota belajar dengan duduk manis di atas kursi dan meja, sementara anak-anak rimba belajar sambil bergelantungan di pohon atau lesehan di bawah pohon.

dan seterusnya. dan selanjutnya. dan banyak hal lagi.

karena itu menurut butet, masalah pendidikan di pedalaman bukan masalah pemerataan guru saja, namun yang lebih penting adalah pemahaman budaya setempat yang menjadi tonggak utama dalam isi kurikulum, kapasitas guru dan cara pandang.

butet-manurungok

berkat  perjuangannya gigihnya dalam mendidik suku terasing itu, ia memperoleh penghargaan “The Man and Biosphere Award” dari LIPI-UNESCO.” kisah perjalanannya dalam mendidik anak-anak itu telah difilmmkan oleh Mirles Films dengan judul Sokola Rimba.

saat ini Sokola rimba, selain ada di jambi juga ada di padang, aceh, garut, maumere, Makassar, Halmahera, bulukumba dan papua. mau menjadi volunteer di sokola rimba, silakan menghubungi butet manurung.

 

Share Button
9 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*