khutbah di atas pasaraya

DSC_0010-640x360

masjid al latief berada di atas pasraya, mungkin masjid paling bagus dibanding masjid lain di mal yang biasanya ditaruh di lorong-lorong sempit di bawah tangga atau dekat toilet. masjid al latief menempati area setengah lantai yang luasnya 1590 meter.masjid bernuansa merah maroon itu dikelola seperti allayaknya bisnis: sangat serius. ini nampak dari kondisi masjid yang selalu bersih, karpetnya tidak bau dan semua sandal harus dititipkan tanpa biaya.

ini salah satu menariknya berkunjung ke masjid milik pak latief yang dulu pernah menjadi menaker itu. salah duanya tentu saja saat bulan puasa seperti sekarang ini, masjid ini menyediakan iftar yang sangat syari: biji kurma dan air putih.

lalu sebelum dan sesudah salat, bisa langsung berbelanja di lantai-lantai bawahnya.

pada hari pertama puasa, senin 6 juni 2016 khutbahnya sungguh menggugah. pengkhutbah bapak- bapak dari mui pusat tampaknya sangat memahami kondisi kebanyakan umat saat ini yang tampak sangat beriman tapi cuek pada keadaan sekitar. bapak yang aku lupa namanya itu berceramah melalui dongeng.

dulu ada seorang ahli agama, namanya juga lup, mungki kurang fokus karena sebelahku adalah anak pra abege yang tampak gelisah di samping bapaknya.
intinya sang syekh itu telah memghabiskan 40 tahun waktunya untuk fokus khusus beribadah kepada tuhan. doi minta tolong kqepada nabi musa untuk menanyakan apakah dirinya kelak akan masuk surga. jawaban tuhan: tidak, dia akan masuk neraka.
memperoleh jawaban itu ia tak yakin danminta tolong lagi kepada musa untuk konfirmasi.

jawabannya tetap, dia akan masuk neraka. kenapa? karena dia egois, beribadah terus tanpa peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

sebagai orang yang taat, ia menerima kabar buruk itu. namun ia meminta kepada tuhan untuk menjadikan dirinya sebesar neraka agar dirinya saja yang memenuhi neraka, tak ada lagi orang yang bisa masuk.
karena tak egois lagi, doi dimasukkan ke dalam surga.

bapak dari mui pusat ini sebenarnya tak yakin apakah cerita ini benar adanya, tak begitu penting. yang lebih penting adalah pesan dari cerita itu: waspadai bahaya laten kesalehan personal karena selalu shalat tapi tak peduli, egois, pelit kepada sesama atau setaksama di sekitarnya ya kurang okay juga.

Share Button
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*