rumah hujan, sebuah review yang penuh semangat

13315440_970802753035331_358038826482471335_nmembaca sebuah novel yang menarik adalah setara dengan mengadakan perjalanan, traveling ke tempat-tempat yang instagramable namun belum banyak traveler kebanyakan yang mendatanginya.

dan dalam perjalanannya menuju ke sana, banyak kejutan-kejutan yang tak mainstream yang tak biasa diposting di social media. namun lebih dari itu, pejalan yang kritis bisa menemukan selain keeksotisan suatu tempat, namun bisa mengetahui cerita dibaliknya.

itulah gambaran novel rumah hujan yang ditulis dewi ria utari. novel ini sebenarnya adalah cerpen yang pernah terbit di koran kompas minggu, lalu dikembangkan menjadi sebuah novel setebal 200an halaman.

dari pengalaman membaca cerpen yang asyik dan perlu dibaca itulah saya memutuskan membeli dan membaca novel yang dijuduli sama persis dengan judul cerpennya, rumah hujan. dan instingku tidak salah, sejak membuka halaman pertama, tak bisa berhenti. dalam waktu semalam (dikurangi tidur mulai jam 11) sampai pagi kira-kira jam 10-an, novel itu selesai..

[dan aku pun pamer ke seluruh dunia dengan memposting di salah satu media social, Twitter. Dari banyaknya follower, semuanya merespon,tapi dalam hati saja. aku tak putus asa]

“rumah hujan” dari kalimat pembukanya yang, “((akulupa, bukunya tertinggal di rumah – red))) novel ini sudah sangat menjanjikan.

cerita dimulai dari perjalanan sepasang kekasih ke ambarawa mengendarai mobil. di daerah ambarawa, kebetulan ban mobilnya pecah. mereka dipertemukan dengan tukang tambal ban. informasi dari tambal ban inilah yang menggiring alur cerita sampai ceritanya berakhir.

namun bukan sepasang kekasih itu yang menjadi tokoh utama. bukan juga seorang perempuan, teman keduanya yang namanya dayu. perempuan yang merasa sendiri dan ada serita tentang cinta cakra dan dayu yang semata-mata karena mirip perempuan lain yang pernah dicintainya.  novel ini tampaknya ditulis secara tergesa-gesa, kemungkinan lebih ke alasan pemasaran.

dugaan ini muncul karena adanya beberapa kesalahan teknis yang terjadi. misalnya tiba-tiba ada nama yang tertulis rama dan beberapa kalimat lain yang mestinya bisa lebih di”smooth”kan. namun karena cara menyampaikan ceritanya yang tak bisa dibaca secara skimming, kesalahan itu bisa dimaafkan.

hal lain yang perlu dikomentari adalah pemilihan covernya yang terlalu “vulgar” untuk ukuran novel yang cukup serius. karena judulnya “rumah hujan”, ilustrasi sampulnya berupa rumah. tentu ini cukup ironis, hanya memindahkan objek yang sudah jelas ke dalam gambar.

pembaca (novel) tak diberi kesempatan berimajinasi seliar banteng di alas purwo yang bisa mencium aroma keringat manusia dari jarak 3 kilometer.

rumah hujan bukan novel inspiratif yang memotivasi. membaca novel ini jangan berharap memperoleh suntikan semangat untuk mengejar target kaya raya di usia muda atau menyimpan pesan moral yang sering ditunggu atau dicari-cari pembaca pemula.  karena dewi ria utari tampaknya hanya jujur ingin bercerita.

Share Button
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*