thousand miles in broken slippers yang menggugah semangat

buku-leo

[ mulai tahun ini berencana aktif membaca buku, karena tahun lalu dan tahun lalu sebelumnya tak pernah mengagendakan waktu untuk membaca. sibuk? itu soal mindset aja. dan ini buku pertama yang saya baca tahun ini]

banyak buku atau tulisan yang sampai hari ini masih mengusung cerita kemiskinan yang mengharu-biru. cukup klise sebenarnya, namun ide ini tak pernah gagal. ternyata banyak pembaca buku yang tetap menyukai kisah-kisah perjuangan, berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian.

thousands miles in broken slippers yang ditulis rosi l simamora ini mengisahkan perjuangan leo consul dalam menggapai mimpi. sebenarnya materi ceritanya sangat sederhana dan ditulis dengan cara yang sederhana pula.

namun dengan kesederhanaan itulah buku yang mulai beredar 14 januari 2016 sangat mudah menyentuh perasaan terdalam yang mendasar setiap pembaca.

bagaimana tidak, buku ini mengisahkan masa bocah leo consul di bolinao, filipina. cerita masa kecil leo yan kini jadi seleb di indonesia ini melampaui fiksi. leo lahir dari keluarga super miskin. ibunya seorang buruh cuci, pengasong dan penjudi. ayahnya menjadi pekerja serabutan dan memulung sampah. dan sejak usia 8 tahun leo sudah bekerja menjadi cleaning service di terminal yang tugasnya membersihkan bus-bus yang baru datang. tragisnya, ia juga ditolak oleh lingkungannya, karena ia terlahir sebagai anak haram. lengkap sudah penderitaan leo kecil.

nah bagaimana ia bisa bertahan dan sukses menggapai mimpinya?

rosi l simamora menuliskannya dengan gaya kemalay-malay-an, sehingga kita membacanya seperti mendengarkan orang asing yang yang berbahasa indonesia. ada banyak ungkapan atau cara penyampaian yang unik, khas orang melayu ngomong.
buku setebal 195 halaman yang diterbitkan gramedia ini berpotensi menjadi buku motivasi yang cocok untuk para remaja dalam menggapai cita-cita.

namun beberapa peristiwa yang dialami tokohnya kadang sulit dipercaya. tapi hidup memang tak pernah diduga, bukan?

sayang buku ini sepertinya ditulis secara tergesa-gesa, penulis tak sabar untuk segera mengakhirinya padahal pembaca masih ingin tahu lebih detail apa yang dialami tokohnya.

Share Button
7 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*