jangan pernah bertanya apa pesan moral sebuah film

16112015-film
lazim jika dalam sebuah diskusi, premiere film pada sesi tanya jawab ada seorang  pecinta film pemula yang menanyakan apa pesan moral dalam film yang sedang di rilis.

pertanyaan tersebut mestinya tidak perlu ditanyakan, karena banyak hal diantaranya:

1.    untuk mengetahui pesan moral (jika ada), maka yang diperlukan adalah menonton film tersebut sampai selesai. dari seluruh cerita yang digambarkan, penonton baru akan mengetahui apa pesan yang ingin disampaikan film maker kepada para penonton tercintanya.

setiap penonton pasti akan mempunyai pandangan yang berbeda dengan film yang baru saja ditontonnya. karena setiap orang punya pengalaman, latar belakang dan cara pandang yang berbeda tentang sesuatu.

jika belum menemukan pesan moral yang dimaksud, nontonlah sekali lagi. dan jika masih belum ketemu juga, tontonlah tiga kali, empat kali atau lima kali sampai menemukan pesan yang dimaksud.

2.    jika yang dimaksud pesan moral adalah nasehat atau petuah kebaikan yang sudah sering kita dengarkan sejak masa bocah, mending tidak usahlah capek-capek dan bayar tiket ke bioskop. mending duitnya disumbangkan ke panti jompo atau pmi dan duduk manis menonton mario teguh golden ways tiap minggu malam.

atau kalau aktif di twitter, follow akun-akun generik yang bertebaran yang dengan tanpa lelah menyerukan pentingnya berbuat kebaikan di timeline.

3.    pesan moral, bagi bagi film maker beken, istilah itu kemungkinan besar tak pernah terbayangkan untuk sengaja menyisipkan pesan moral atau nasehat dalam film-filmnya. karena dia hanya ingin bercerita dengan bahasa gambar  dan membuat penonton tergugah emosinya baik marah, benci, sedih atau tiba-tiba ingin rajin shalat tahajud.

kecuali memang mereka membuat film untuk kampanye atau film penerangan soal pentingnya internet atau soal pemilu yang dilakukan serentak.

4.    benarkah kita (kita?) masih memerlukan sebuah pesan moral? dulu, waktu masa bocah sering didongengi cerita-cerita binatang seperti kancil mencuri timun dan lainnya. hal itu menarik, karena masa bocah yang masih polos itu harus dipengaruhi, disisipi nilai-nilai kebaikan sehingga kelak ketika dewasa mereka menerapkan nilai yang dia pegang.

kini kita dah dewasa, sudah mengetahui dengan sadar mana yang baik dan mana yang buruk, masalahnya adalah ada kemauan untuk melakukan itu atau tidak.

pertanyaanya, apaka tidak bosan jika terus menerus dinasehati hal yang sama? bukankah kebaikan tidak pernah berubah?

bagaimana?

Share Button
7 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*