fakhtul huda: batik bukan soal uang semata, tapi sebuah pengabdian

0-fachtul(fakhtul huda)

sejak batik ditetapkan sebagai sudah menjadi warisan dunia.  kepopulerannya meningkat. ini berbeda dengan masa dulu ketika masih jarang orang memakai batik, saat itu saya ke tempat kerja memakai batik dan selalu dipanggil pak lurah atau ditanya mau kondangan kemana?

meski kini batik (tulis) telah populer, namun para kreatornya, para maestro batik nasibnya tak segegap-gempita dengan kepopuleran batik.  namun kondisi ini tak membuat salah seorang maestro batik dari pekalongan, fakhtul huda tetap membatik. padahal banyak kendala yang harus dihadapi, selain makin langkanya bahan baku seperti gondo rungkem ( bahan untuk membuat malam), bahan atau mori dan pewarnanya semuanya masih impor.

[bayangkan, pemerintah apa kerjanya]

0-kopdar-asyik

laki-laki bersahaja ini menuturkan bahwa batik tulis di daerah asalnya, pekalongan sejak lama telah populer. terutama batik dari daerah kemuning dengan corak hokokaoi yang terkenal sangat halus dan detail motif-motifnya.

sabtu, 7 november 2015 di #kopdartemanasyiik laki-laki ini bangga  menceritakan batik-batik yang diproduksi di daerah kemuning. menurutnya untuk bisa membatik sehalus dan sedetail batik-batik hokokai seorang pembatik harus melewati proses meditasi. kalau tidak, hasilnya tak seperti yang diinginkan.

cantingnya pun khusus, untuk membatik dengan motif-motif tertentu agar memperoleh hasil terbaik, canting yang dipakainya pun berasal dari emas. selembar kain panjang motif hokokai yang motifnya sangat detal perlu waktu 2 tahun untuk menyelesaikannya. harganya pun cukup fantastis, rp 17,5 juta.

0-batik

motif batik hokokai, hanya berkembang di tiga wilayah: hokuntul di wilayah bantul, hokundal untuk wilayah kendal dan hokusan untuk wilayah pamekasan, madura.

namun batik-batik seperti itu hanya untuk para kolektor. menurutnya harga ini jauh lebih murah dibanding harga pada tahun 1940-an.

fakhtul menyampaikan bahwa saat itu ada seorang kolektor batik yang berani menukar selembar baik dengan sebuah mobil mercy, padahal kain batik itu belum selesai dikerjakan. hebat kan?

selain tantangan dari dalam, tantangan para pembatik di pekalongan adalah batik printing, batik printing yang di”akali” dan dianggap batik tulis, serta serbuan batik yang diproduksi china.

namun fakhtul tetap bertahan, ia bersama komunitasnya di daerahnya tetap memproduksi batik. “membatik itu bukan soal uang semata, namun sebuah pengabdian budaya,” katanya. ia adalah generasi keempat dari keluarganya yang pembatik.

0-batik-hokokoa

ia berharap ke depan makin banyak orang yang memahami dan mencintai batik. karena di unikal, universitas pekalongan, saat ini terdapat fakultas batik. tak hanya orang indonesia yang belajar soal batik ini namun juga orang-orang dari korea selatan dan negara lain.

selalu menarik melihat orang-orang yang konsisten melestarikan budaya. sayang pemerintah tak pernah merasa berkewajiban untuk mengembangkan, padahal ini adalah untuk kepentingan indonesia.

jika sedang berwisata ke pekalongan, mampirlah ke budi famoli batik, galeri batik yang dikelola bersama keluarga. alamatnya di  jl rasa wiradesabojong, petukangan rt  pekalongan03/ rw 01 telepon 085642502592 dan 081225744693

di acara acara #kopdartemanasyiiik ini hadir juga maestro reog ponorogo, maestro topi bambu, maestro pemeatung batu dari trowulan mojokerto jawa timur dan abah goni yang mendaur ulang karung goni menjadi barang seni yang diekspor sampai ke panama, juga pengrajin sandal bandol dari banyumas dan blangkon dari blitar.

12 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*