ke baduy dalam, banyak pelajaran tak terkatakan

baduy3

(anak-anak baduy dalam yang sedang bermain ke baduy luar, di baduy dalam tidak boleh memotret)

jumat, 26 september 2015 adalah hari yang mencerahkan, karena bertemu dengan warga baduy dalam. perjalanan menuju ke kampung baduy dalam yang berada di tengah hutan yang misterius ini cukup berat. dari stasiun rangkasbitung, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan elf sampai kampung cijahe, desa terakhir dimana kendaraan masih dibolehkan.

dari cijahe, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki selama 3 jam dengan menaiki bukit, menuruni lembah dan menyeberangi sungai.
baduy2

(di tengah hutan yang misterius, di dekat pegunungan kendeng, tempat tinggal suku baduy  dalam)

persepsi tentang suku baduy dalam yang tinggal di wilayah cibeo, lebak banten selama ini adalah suku terasing dan bodoh. padahal sebenarnya tidak. mereka seperti pintar, berpengetahuan seperti masyarakat modern lainnya. hanya saja mereka dengan kesadaran penuh memilih menjalani gaya hidup mereka yang nyentrik atas nama aturan adat.

untuk bisa menerima, menjalani gaya hidup level orang “baduy dalam”, orang-orang yang dianggap modern, perlu pengalaman dan pencarian hidup yang panjang, berliku, berdarah, membusuk dan bernanah. dan mereka yang mencari pun belum tentu menemukan, apalagi jika hanya diam tak pernah mencari.

baduy4(potret anak baduy, mereka tidak sekolah namun bisa belajar otodidak bersama orang-orang yang ditemuinya )

beberapa gaya hidup orang baduy yang sangat keren itu diantaranya, mereka sangat go green, kampanye yang gencar dilaksanakan oleh negara-negara yang mengaku maju saat ini, sementara suku baduy dala telah mempraktekkannya sejak ratusan tahun. jadi siapa yang lebih modern?

warga badui dalam sudah paham kapan merasa dirinya cukup. mereka tidak serakah. mereka bahagia dengan apa yang mereka punya. bukankah tujuan hidup hanyalah bahagia? hal ini ditunjukkan dengan mempraktekkan pertanian hanya menanam padi satu kali setahun. itu pun jenis padinya adalah padi gogo yang baru bisa dipanen selama 6 bulan.

baduy

(salah satu jalan setapak menuju ke badui dalam, perlu waktu 3 jaman untuk sampai ke kampung cibeo)

warga baduy dalam juga dilarang menam bayam, singkong, kangkung, memelihara ternak berkaki empat ataupun melakukan budi daya ikan. ada banyak larangan adat lain yang harus dipatuhi, memakai piring, memakai sandal, memakai sabun, odol, shampo dan juga dilarang berkendara saat bepergian. mereka juga dilarang memakai pakaian selain dari kapas. hidup orang baduy dalam senantiasa dalam keadaan “berpuasa” selama hidupnya.

orang baduy tak pernah ber-negative thinking, beretorika, melakukan pencitraan, pamrih atau bahkan menusuk dari belakang. religiusitas mereka telah sampai pada level sufi. bayangkan mereka menyimpan padi hasil panen dalam lumbung-lumbung yang mereka dirikan di luar desa. lumbung-lumbung yang berbentuk rumah-rumah kecil beratap daun aren tersebut tak pernah dijaga dan tentu saja tak pernah ada sekalipun kasus pencurian di sini.

baduy1(istirahat di perkampungan warga baduy luar)

begitu juga saat mereka kedatangan tamu dari jakarta dan kota-kota modern lain. mereka menyambut dengan ketulusan. mereka menyambut dengan tangan terbuka, tak pernah mempertanyakan apalagi membahas hal-hal yang berhubungan dengan uang. yang lebih mengharukan mereka menyediakan makanan meski di lumbungnya entah masih ada persediaan beras atau tidak. celakanya, para pendatang kurang peka, tidak bisa membaca apa yang tak mereka sampaikan.

7 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*