asal-muasal kebiasaan “tidak tepat waktu” di indonesia

ainunchomsun

sering kita mengalami datang ke acara yang jadwalnya molor. ada yang hanya telat beberapa menit, beberapa ada yang sampai satu jam, atau ada yang dua jam?

(kalau soal invoice, waktu pembayaran bisa molor berbulan-bulan, bahkan ada yang setahun lebih)

alasan keterlambatan itu biasanya karena menunggu hadirin agar lebih banyak dulu, minimal 75% dari peserta yang sudah berkomitmen hadir.

uniknya soal kemoloran atau ketidaktepatan waktu ini, sampai hari ini tak ada yang mempermasalahkan sama sekali. buktinya tak ada yang teriak baik secara personal atau komunal, atau dari instansi-instansi. (instansi pemerintah tentu tak usah dihitung ya, kecuali instansi militer)

sepertinya sudah menjadi rahasia umum atau tahu sama tahu bahwa acara telat itu sangat biasa, wajar dan memang tidak perlu dipermasalahkan, padahal ini adalah sebuah kesalahan fatal. ibarat penyakit, tidak tepat waktu ini sudah mewabah, wabah nasional.

menurut ainun chomsun, founder akademi berbagi, kebiasaan tidak tepat waktu itu karena mereka menganggap hal tersebut tidak penting. kalau penting pasti diusahakan.

dalam sebuah diskusi yang eksklusif, sabtu, 22 agustus 2015, ia mengatakan, perilaku seseorang itu dasarnya adalaj pendidikan di keluarga, sekolah dasar. “aku melihat orang-orang yang komit, dasar pendidikan keluarganya disiplin.

anak-anak yang disiplin, biasanya ortunya keras. lalu ia bercerita bahwa dulu ia sering memperoleh nasehat dari orang tuanya yang mengatakan, “kalau kamu ingkar janji kamu merugikan orang lain. kalau kamu gak bisa menolong orang lain minimal gak nyusahin orang lain,” katanya.

masih menurutnya, masalah tidak tepat waktu dan tidak komit ini adalah masalah nasional dan lintas generasi.

ainun chomsun yang sudah berkeliling ke berbagai kota ini suatu hari menjadi guru di sebuah sekolah. saat itu siswa yang datang sedikit, namun ia tetap menunggu dan para siswa yang telat pun asyik-asyik aja, tidak merasa sungkan atau merasa bersalah. menurutnya ini adalah masalah value yang diajarkan ke mereka.

“value keluarga itu penting. celakanya kurikulum pendidikan dasar kita masih akademis bukan membangun karakter. urusan karakter sepenuhnya diserahkan orang tua. padahal orangtuanya sendiri malah memanjakan dan memudahkan, tulisnya di grup whatsup.

pernah sebagai staf kepresidenan pada masa pemerintahan gus dur, ia banyak belajar dari paspampres. di sini aturannya sangat ketat, telat satu menit dihajar. tentara tak peduli alasan apapun. “tiada hari tanpa lari-lari, “ katanya.

jadi menurutnya, belajar disiplin itu harus dipaksa, sehingga jadi habit, terus jadi value hidup.

kapan sebaiknya mengajari disiplin pada anak? menurutnya sejak dalam kandungan. “misalnya saat bayi, jam 8 malam saatnya tidur, taruh di tempat tidur, ruangan digelapin. orang tua tidak beraktivitas di kamar anak. jangan ajak anak bermain. anak akan terbiasa dan paham, malam itu gelap semua aktivitas berhenti dan harus tidur.

“hargai diri sendiri dengan tidak ingkar janji. kalau kamu ingkar, kamu merendahkan diri sendiri. kalo kamu gak menghargai dirimu apalagi orang lain” (Foto: http://indonesiakreatif.net/)

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*