ruang tengah, tempat favorit ngabuburit bersama keluarga

sawahramadan, momen ini selalu memberikan suka cita sejak masa bocah sampai sekarang. momen-momen paling berkesan yang tak bisa terulang.

waktu itu saya masih berusia sembilan tahun, kelas 3 sekolah dasar di sebuah kampung yang sampai sekarang belum terdeteksi google map. tepatnya arah tenggara dari wonogiri, perbatasan dengan pacitan, tempat kelahiran presiden indonesia ke-6.

saya ingat betul, sebagai bocah, ibadah puasa terasa begitu berat, apalagi dituntut untuk berpuasa sehari penuh. selain berpuasa untuk beribadah, puasa sehari penuh adalah sebuah tantangan untuk membuktikan bahwa saya juga kuat untuk menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

sebenarnya orang tua membolehkan untuk berpuasa setengah hari, namun karena tak mau kalah dengan teman sebelah rumah, akhirnya memutuskan untuk nekat berpuasa sehari penuh.

menjelang senja, seperti biasa sambil menunggu bedug tiba, kami sekeluarga bercengkerama bersama orang tua, ayah, ibu , kakak dan adik di rumah. seperti orang kampung yang lain, mereka menunggu waktu buka puasa hanya di rumah. sebagian kecil di masjid, karena di sana tidak ada mal atau warung makan seperti di metropolitan.

kami juga menunggu maghrib berada di ruang tengah yang spacenya paling besar. ruangan itu berada di belakang ruang tamu dan di samping kamar-kamar yang berderet. di situlah kami waktu buka puasa yang ditunggu-tunggu itu.

ruangan seluas 16 meter itu dibiarkan kosong tak ada meja atau kursi di sana. seringnya hanya digelar tikar pandan yang dibuat sendiri. biasanya bapak suka bercerita, bukan saja tentang aktivitas kesehariannya, namun yang sering adalah menceritakan kejayaan masa lalunya.

sementara ibu saya lebih sering menceritakan pohon keluarga. dia selalu menyuruh untuk bermain, bersilaturahmi dengan kerabat jauh. menurutnya kalau hubungan itu tidak ada yang memulai, pelan-pelan antar keluarga tidak akan saling kenal.

dia lalu menceritakan kakak-kakaknya yang merantau ke palembang dan lampung. mereka bertemu tidak selalu setahun sekali, kadang bisa bertahun-tahun baru bisa berkumpul.

kami bertiga, anak-anaknya takzim mendengarkani. di ruang tengah itu selain bergantung foto presiden dan wakilnya juga foto using beberapa saudaranya yang jarang pulang itu.

tanpa sadar waktu maghrib tiba. kami membatalkan puasa dengan takjil seadanya. kadang dengan kolak pisang atau ubi, gorengan atau cukup teh manis saja.

momen kebersamaan itu tak akan pernah terulang lagi. di ramadan kali ini, ruang tengah itu kini sepi, karena tinggal ibu yang duduk sendiri karena anak-anaknya semuanya telah pergi. ruang tengah itu akan kembali ramai menjelang lebaran kurang beberapa hari lagi. momen kebahagiaan itu namun tetap berbeda dengan kebahagiaan masa dulu.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*