nasib maestro tenun ikat ini tak sememukau karyanya

maumeroke

keelokan kain tenun ikat sudah sangat populer, meski masih kalah dengan batik. kain tenun ikat maumere, timor, sikka, sumba dan lainnya mempunyai nilai artistik yang begitu tinggi, juga nilai filosofis, hal ini tampak dari motif-motif yang dibuat oleh para maestro tenun di ntt tersebut.

beberapa motif itu diantaranya adalah dala mawarani (bintang kejora), agi pelikano ( malaikat, burung suci pelikan), jarang atabiang ( pasangan manusia berkuda), koraseng doberadu (manusia bagai pasangan ayam), koraseng manuwalu ( manusia bagai pasangan ayam dengan induk sang pelindung), manu, oko kirek, ahu-uta, pedang puhung, ata-biang dan lainnya.

tidak sembarangan motif-motif tersebut dipakai di setiap kesempatan. tiap motif mengandung makna tertentu dan hanya dipakai untuk moment atau peristiwa adat tertentu. misalnya

sarung dengan motif moko dipakai saat upacara perladangan dengan wujud doa memohon kesuburan, utang jarang ata’biang dipakai untuk upacara kematian, utang mawarani dengan simbol bintang kejora, diharapkan dapat memberikan penerangan, petunjuk juga sebagai media penolak bala.

untuk menghasilkan selembar kain tenun ikat ntt yang berukuran 80 cm x 280 cm diperlukan kurang lebih 20 hari sampai sebulan. dari proses pemintalan benang, pewarnaan dan proses pembuatan motif dengan cara mengikat dan menenunnya sampai menjadi selembar kain tenun ikat yang memukai dan bermakna.

para penenun ini tidak mau disebut pengrajin. mereka tidak mau disamakan dengan para pembuat kerajinan tangan seperti asbak atau gantungan kunci yang bisa memproduksi sekian ribu dalam sekian hari.

menenun bagi warga di pulau ini adalah hidup mereka. mereka menenun tidak semata-mata untuk mencari uang. para penenun itu membuat kain tenun ikat lebih untuk dipakai sendiri dan upacara adat, perkawinan atau kematian.

karena itu meski harga jual kain tenun ikat maumere termasuk mahal ( 600an ribu dengan ukuran 80×280 cm) kehidupan perekonomian para penenun boleh dikatakan belum maksimal. karena selain tidak bisa diproduksi massal, masyarakat masih sedikit yang mengenal kain yang merupakan warisan budaya indonesia yang tak ada duanya di dunia itu.

seorang perempuan maumere, vaya pega, seorang pecinta tenun dan kolektor kain melalui whatsaap mengatakan, dirinya secara suka rela membantu para penenun itu melalui butik dan instagramnya.

“ saya membagi benang untuk ditenun, lalu hasil tenunan dibagi dua, saya satu mereka satu. jujur saja masyarakat di sini masih kurang mampu mas untuk membiayai kehidupan sehari-hari, apalagi untuk membeli benang dan bahan-bahan untuk menenun, “katanya.

dari kain tenun ikat yang dihasilkan tersebut, mama penenun menjualnya ke pasar. namun menurut perempuan ini, kain-kain yang dijual sangat lama lakunya. karena di maumere, hapir semua bisa menenun sendiri. kalaupun laku untungnya juga sedikit, karena harga benang yang dibeli juga sudah sangat mahal, “tambahnya.

kalau tidak dijual, hasil tenunan itu mereka simpan sendiri untuk dibawa atau sebagai hadiah apabila ada acara adat dalam keluarga, seperti perkawinan dan kematian.

sehingga kegiatan menenun sampai sekarang belum dijadikan sebagai aktivitas utama para mama di maumere.
“kalau musim hujan sepertj ini dari desember sampe maret mereka tidak menenun, karena harus pergi ke kebun. sehingga musim seperti ini agak susah untuk mendapatkan kain tenun, tambah vaya.

karena harga yang mahal dan proses yang lama itu, motif-motif kain tenun maumere kini dicontek dan dicetak oleh para pabrik. tentu ini sangat memprihatinkan. bila tidak segera ditangani serius, keelokan kain tenun maumere yang original, ditenun dengan cara manual akan segera tinggal kenangan.

untuk mempopulerkan kain tenun maumere dan sekitarnya, vaya mencoba mengenalkan kain tenun ikat maumere ke masyarakat luar dengan membuat akun instagram @saroengmaumere.

kolektor kain tenun ini menjual dengan harga yang tidak tinggi dibanding di tempat lain. mengoleksi kain tenun ikat maumere adalah menyelamatkan harta karun warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

 

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*