curhat jakarta

Jakarta_Indonesia

berpuluh-puluh tahun lalu, lima menit setelah keluar dari stasiun gambir, kesan pertama tentang jakarta tidak menyenangkan. dan memang sejak berangkat dari rumah pun tak pernah berharap banyak.  kesan itu muncul ketika naik bajaj menuju ke tempat ke rumah yang akan didatangi.

pai itu sekitar jam 8, suasana jalanan sangat sinematik. diantara deretan mobil yang macet, pemotor berzigzag mencari celah-celah agar bisa sampai ke depan. beberapa biker yang sudah mentok, tak bisa maju lagi mulai menyalakan rokoknya. dulu belum banyak yang punya handphone tentu saja.

dari arah depan, beberapa pengemis menghampiri dari satu mobil ke mobil lain. pengasong sambil berteriak-teriak melambai-lambaikan dagangannya. bis kota selalu berjubel penumpangnya. dan pastinya di antara para penumpang itu ada copetnya.

bajaj yang aku tumpangi sangat gesit mencari jalan, belok tajam ke kiri tanpa lampu sen, semuanya serba tak teratur, tak patuh pada peraturan dan seenaknya sendiri, padahal ini di ibu kota negara. tempat berkumpul orang-orang pintar seluruh indonesia. kenapa bisa begitu semrawutnya?

waktu itu sempat punya harapan, mungkin sepuluh tahun lagi, para penghuni kota ini akan lebih pintar, dewasa, bijak, taat dan hal-hal lainnya. kenapa karena orang-orang yang kebetulan sudah tua, kurang pendidikan telah mati. tinggal anak-anak muda yang yang telah mengalami pendidikan lebih tinggi.

karena itu, saya cukup bersabar dengan kondisi kesemrawutan dan kejorokan orang-orang yang menyebabkan kali jakarta begitu berbau setengah mati. seorang biker dengan sengaja melewati trotoar yang disediakan untuk pejalan kaki. para pejalan kaki ketika ramai-ramai tanpa merasa bersalah juga sengaja melakukan kesalahan, menyebrang jaan bukan pada tempat dan waktunya.

efek kemacetan memang menyebar ke segala penjuru mata angin.

berpuluh-puluh tahun kemudian:

[baca ulang dari atas, kemudian ditambah seperti di bawah]

kendaraan kini makin banyak, penghuni jakarta juta makin berlebih, efeknya kemacetan lebih panjang, berangkat ke kantor lebih pagi, ketidaksabaran pengendara meningkat,  mungkin karena mereka lebih stress. beberapa kali telah melihat kesetressan jakartans nampak di depan mata.

suatu hari sehabis pulang outing dari kota factory outlet bandung, sesampainya di jalan asia afrika jalanan super macet, sependek jalan itu sampai senayan city, telah terjadi pertengkaran sebanyak tiga kali. inti dari persoalannya adalah ketidaksabaran yang diakibatkan oleh akumulasi kemacetan yang dihadapi sehari-hari.

ada yang kesenggol spionnya, ada yang menabrak bagian belakang mobil dan satu lagi karena spionnya patah. pernah juga seorang bapak-bapak berteriak-teriak di bus trans jakarta yang akan membunuh orang. ada juga biker yang tentunya pinter itu dengan sengaja melewati trotoar yang disediakan pejalan kaki.

dan pejalan kaki pun ketika beramai-ramai tanpa merasa bersalah menyeberang jalan pada waktu dan tempat yang salah. pemda dki pun juga begitu, untuk mengurangi kemacetan mereka menyediakan solusi dengan menyediakan bus trans jakarta yang menebangi pohon, membuat halte di trotoar (seberang masjid al azhar, jl sisingamangaraja).

melakukan kesalahan dianggap biasa. melakukan kebenaran tak dianggap apa-apa. lama-lama apa yang tersisa dari jakarta(ns)?

*gambar dari cnsnews.com

 

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*