Andri Rizki Tanpa Kejujuran, Pendidikan Tidak Ada Artinya

aku-andriaku-andri

Sudah menjadi rahasia umum, sistem pendidikan di sekolah-sekolah formal dianggap pnya banyak kelemahan, mulai dari banyaknya mata pelajaran yang harus diajarkan, jam masuk sekolah yang kepagian, beban biaya yang terus melangit  dan ketika unas,  praktek kecurangan dilegalkan oleh guru secara diam-diam. Belum lagi kasus pelecehan seksual yang terjadi pada sekolah bertaraf global.

Banyak protes dari masyarakat, hal ini memunculkan banyak cara alternatif bagaimana belajar yang menarik dan menyenangkan. Home scholing atau mengejar Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA) misalnya.

Namun berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Andri Rizki Putra. Pemuda berusia 23 tahun ini punya cerita menarik bagaimana ia menentang sistem pendidikan yang ada di sekolah-sekolah formal.

Waktu itu Rizki masih kelas 3 sekolah menengah pertama (SMP). Ketika Ujian Nasional (UN) berlangsung, terjadi praktek menyontek dan kebocoran soal UN di sekolahnya. Lebih parahnya guru-guru justru ikut memberikan kunci jawaban ke peserta. Modus lainnya, guru-guru memberi arahan kepada murid-murid yang duduk di peringkat 3 besar untuk membantu memberikan jawaban bagi teman-teman mereka yang lain yang dinilai berkemampuan pas-pasan pas mengikuti UN Tujuannya semua siswa lulus sehingga reputasi sekolah akan tetap baik.

Rizki yang saat ini bekerja di sebuah kantor konsultan Baker Mckenzie sebagai associate ini menolak. Ia berusaha melaporkan skandal ini ke kepala sekolah, namun sebelum rencana ini berhasil, ia dihadang oleh gurunya sendiri.

Sang guru malah menyuruh Rizki pulang dan mengingatkan jangan sampai isu ini tersebar luas. Laki-laki yang suka bercanda ini sempat mengenyam pendidikan sekolah formal di SMU kurang lebih selama sebulan. Kejadian UN tersebut meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi Rizki. Ia berpikir, buat apa menimba ilmu di sekolah selama tiga tahun kalau pada akhirnya akan menemui hal yang sama?.

Ironisnya, ia juga menerima perkataan “Kalau kamu tidak bisa mengikuti mainstream atau perkembangan masyarakat kamu akan selalu tertinggal”, katanya di kantor redaksi liputan6.com pada Kamis, 9 Oktober 2014 pukul 12:30 WIB. Berangkat dari ucapan tersebutlah Rizki akhirnya mantap memutuskan untuk keluar dari sekolah.

Karena itu ia memutuskan keluar sekolah. Ia tak lagi percaya pada institusi pendidikan yang ada sekarang ini. Ia depresi, mencari solusi bagaimana  memperoleh pendidikan dengan cara lain. “Meski putus sekolah, bukan berarti saya tidak mau meraih pendidikan yang lebih tinggi!” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan adalah media untuk membentuk karakter seseorang lebih baik dan berintegritas. Dan ketika hal itu diraih dengan kecurangan  maka pendidikan itu sudah tidak ada artinya lagi.

Apa yang dilakukan sungguh tak pernah disangka banyak orang, ia mengambil paket C, sekolah setara SMA. Pilihan ini memberikan konsekuensi yang berat. Ia dikucilkan. Ibu Rizki yang merupakan orang tua tunggal pun menjadi bahan cibiran. “Masa anak tunggal dibiarkan putus sekolah dan mengambil Paket C?” Maklum, Ijazah Paket C ini identik dengan orang-orang yang mempunyai kecerdasan tidak memadai atau identik dengan orang-orang yang tidak mampu.

Namun Rizki mengaku, pilihannya ini didukung oleh ibunya. Hanya Ibu nya yang percaya dan mendukung dengan apa yang dilakukan Rizki

Selama setahun mengikuti Paket C, ia lulus. Lalu Rizki yang sering disangka member grup boyband Korea itu melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia. Selama 6 semester ia menyelesaikan studinya dengan predikat cum laude dan meraih juara 3 Mahasiswa Berprestasi tingkat fakultas.

Sebagai bentuk tanggungjawab moral kepada masyarakat dan ucapan terimakasih karena diberi kesempatan yang berbeda dengan anak-anak putus sekolah yang lain, Rizki kemudian mendirikan sebuah yayasan yang memberikan ruang kepada anak-anak atau orang dewasa yang putus sekolah dan terus ingin belajar dengan mengambil paket A, B atau C.

Hal ini dimulai Rizki pada liburan semester 3 perkuliahannya, Januari 2010. Awalnya Rizki bersama warga-warga Bintaro mendirikan wadah bernama Masjidschooling. Sebelumnya ada program orang tua asuh untuk membiayai anak-anak kurang mampu untuk tetap sekolah. Namun jika dikalkulasikan, biaya yang dibutuhkan untuk melanjutkan program orang tua asuh terbilang mahal per tahunnya dan hanya menjangkau beberapa anak saja. Rizki mengusulkan ide agar program tersebut diganti menjadi program Kejar Paket A, B dan C, lalu menyarankan warga ikut berkontribusi dalam mengajar secara sukarela demi menekan biaya operasional. Tempat yang tersedia untuk mengajar saat itu hanya di teras mesjid, makanya penamaannya pun Masjidschooling. Hampir 4,5 tahun berjalan, kini Masjidschooling telah membantu meluluskan ratusan orang dengan sistem sekolah paket.

Berbekal pengalamannya di Masjidschooling, tahun 2012 Rizki mendirikan Yayasan yang dinamai  Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB). Konsep YPAB sama seperti Masjidschooling. Bedanya disini lebih banyak anak muda yangberkecimpung dari berbagai macam kalangan profesi dengan sistem volunteer. Kini, YPAB pun telah membantu meluluskan puluhan orang dengan sistem sekolah paket. Siapa saja yang ingin sekolah mengambil sistem paket bisa mendaftar di kantor sekretariatnya di Tanah Abang. Saat ini YPAB telah ada juga di Medan.

Baik Masjidschooling dan YPAB, menyelenggarakan pendidikannya secara cuma-cuma. Para peserta tidak dipungut bayaran sama sekali selama menempuh pendidikan disini, sampai mengikuti UN Kesetaraan Paket. “Syarat utama menjadi murid disini cuma 1, komitmen untuk belajar” ujar Rizki.

Menurutnya, hakikat pendidikan itu intinya “transfer of knowledge,” caranya pun sederhana. Ada murid dan ada pengajar. Sesederhana itu Pendidikan itu tidak terdefinisikan dengan sekolah saja. Begitu banyak cara untuk meraih pendidikan, bahkan tak terbatas.

Tantangan terberat dalam mengajak warga untuk terus sekolah adalah mengubah mindset mereka. Rata-rata mereka sekolah hanya ingin memperoleh selembar ijazah. Menurut Rizki, itu tidak cukup, selain ijazah harus memiliki praktis skill dan yang terpenting etika. Karena itu di yayasan ini diajarkan juga tentang materi yang umumnya tidak diajarkan seperti, financial literacy, kelas memasak, kelas profesi seperti dokter gigi, polisi, kelas motivasi, atau yang lainnya. Kelas tersebut dinamakan kelas Pengembangan Wawasan. Menurut Rizki, apa yang terjadi di praktik dengan teori sangatlah berbeda. Sehingga, jika yang diajarkan hanya sebatas Matematika, Bahasa Inggris atau pelajaran UN yang lainnya saja, maka manfaatnya pun kurang dapat dirasakan.

YPAB menyemaikan mimpi dan membantu mewujudkannya.

Rizki yang fasih bahasa Inggris, dan cukup mengerti bahasa Perancis dan Spanyol ini sedang mempersiapkan diri agar tugas-tugas mengurus yayasan bisa didelegasikan kepada para relawan. “Semua yang tergabung dalam YPAB adalah pemimpin disini. Saya hanya bagian kecil dari berjalannya YPAB. YPAB merupakan wadah kerjasama semua volunteer, bukan saya semata” ungkap Rizki. Menurutnya, penting agar sebuah organisasi dapat berjalan dengan baik, untuk memikirkan regenerasi sedini mungkin. Sehingga, spirit mengelola organisasi tidak akan lekang oleh waktu. Rencananya tahun 2017 ia akan pergi ke Amerika, untuk belajar. “Pilihannya ada dua, School of Education atau School of Public Policy. Atau mungkin mengambil kedua-duanya. Masih lagi dipikirkan sih Mas” ujar Rizki.

Cerita Rizki yang menginspirasi ini ternyata telah dilirik oleh sebuah penerbit. Dalam waktu dekat, buku tentang pengalaman ia menimba ilmu baik selama sekolah maupun putus sekolah akan dirilis dirilis. Disitu Rizki juga berbagi kisah mendirikan yayasan dan apa saja tantangannya. Tujuannya, agar anak muda yang ingin memiliki projek sosial, bisa mengambil pengalaman Rizki selama mengelola kegiatan sosial beberapa tahun ini.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*