3 nafas likas, 3 makna kehilangan

likas-ok

jangan pernah putus asa mencintai film indonesia. masih ada harapan untuk bisa menonton film indonesia yang bagus, yang digarap dengan sungguh-sungguh sepenuh hati. setelah minggu lalu kecewa dengan salah satu film indonesia, kamis ini kekecewaan itu terbalas dengan menonton film indonesia lain: 3 nafas likas.

film ini nyaris tidak kedengaran promonya. dari posternya, tak menjanjikan, sebenarnya ini film tentang apa? cinta, perang, atau film horror yang judulnya unik-unik itu? namun karena rekomendasi teman, akhirnya mgengagendakan nonton film ini. sendirian.

lebih dari separo kursi terisi. dan pada menit ke-5 film 3 nafas likas ini aku langsung menyimpulkan film ini sangat bagus, nontonnya harus serius, tak boleh ada scene yang dilewatkan.

aku membetulkan posisi duduk saya dan mematikan handphone lalu memasukkannya ke dalam tas.

film 3 nafas likas adalah film biopic tentang perempuan tangguh yang berjuang mengatasi permasalahan hidupnya tanpa mengeluh.
sejak kecil likas yang cerdas ingin bercita-cita menjadi guru. ayahnya (arswendi nasution) yang visioner mendukungnya. namun ibunya (jajang c noer) masih bermindset konvensional. sutradara rako prijanto sangat jenius menggambarkan ketegasan dan kegigihan likas kecil dalam scene ini. u

menjelang dewasa, likas bertemu dengan djamin gintings dan menikah. masa itu masih dalam perang kemerdekaan, mereka harus berpisah tempat tinggal, namun cinta mereka tak pernah padam.

sampai akhirnya djamin ginting karirnya terus menanjak dan akhirnya presiden soeharto menugaskannya sebagai dubes di kanada.  sampai detik terakhir cinta mereka tak pernah padam. mengharukan bukan?

film ini sungguh sarat pesan moral. salah satu hal yang dianggap penting dan sering  dicari para penonton film indonesia kebanyakan.  seperti pesan-pesan tentang kehidupan yang pernah ada, klise tapi tetap sangat relevan sampai akhir jaman.

menonton film ini, aku jadi memaknai ulang apa arti bersenang-senang, apa itu arti bahagia.

film ini juga mengajarkan bagaimana memaknai kehilangan. dalam film itu likas selama hidupnya telah kehilangan 3 orang yang begitu dicintai dan berpengaruh di dalam hidupnya. tragisnya, ia selalu tak ada di dekatnya ketika mereka meninggal.

waktu masih sekolah di padang panjang, ia kehilangan  ibunya. lalu ketika tinggal di kebanjahe (?) ia kehilangan njore abang yang selama ini membiayai sekolahnya,  dan tentu saja ketika suaminya pulang ke surga.

(dalam realitasnya, ibu likas kehilangan putera bungsunya pada tahun 2008)

bagaimana caranya menghadapi kesedihan-kesedihan itu agar kita bisa hidup seperti orang hidup lainnya?

film ini sanggup menggerakkan penonton mencari tahu lebih dalam siapa sebenarnya ibu likas yang kini berusia 90 tahun itu.

Share Button
3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*