toleransi kini yang makin menipis

Young buddhist monk sat down on the summit of an old temple in Bagan, Burma or Myanmar

 

 

suatu sore di hari raya yang fitri, akubertemua dengan teman lama banget yang waktu remaja dulu begitu ikrab. teman bermain, belajar dan ber”jailiyah rame-rame.

pertemuan itu begitu menyemangatiku, karena teringat petualangan-petualangan yang pernah kami lakukan bersama. namun keantusiasan saya itu ia sambut dingin, sedingin es batu yang sudah meleleh, jadi tidak sampai diantara kami membeku.  namun seperti ada tembok besar caina diantara kita.

lalu aku tersadar, perpisahan yang bertahun-tahun telah mengubah seorang dia. kesimpulanku dia sekarang lebih muslim, alim, saleh, lebih beriman.

dunia telah berubah, semua orang terhubung, informasi mendatangi kita bak air bah. namun toleransi makin menipis.

ok, baiklah. aku menghormati keputusannya, dan masing-masing kami pamit tanpa meninggalkan nomor handpone, akun facebook, apalagi twitter.

kadang aku merasa b(er)untung punya masa bocah di sebuah kampung terpencil di ujung selatan wonogiri (dekat darwin)

di lingkungan yang (dianggap) primitip itu toleransi begitu besar antar aggota masyarakat. di kampung itu mayoritas warganya beragama islam abangan, sebagian kecil menganut kejawen, sebagian kecil lagi menganut keyakinan yang orang modern menyebutnya animisme dan 3 keluarga menganut agama katolik.

setiap anak yang tumbuh di sana akan mengetahui sedikit-sedikit keyakinan-keyakinan yang dianut oleh warga di kampung itu dari beberapa ritual yan dilaksanakan ketika ada peristiwa penting.

misalnya ketika menjelang puasa, orang-orang kejawen akan membuat ritual khusus yang disebut megengan. sebuah ritual untuk mengirimkan doa kepada leluhur agar lebih nyaman di sana. setiap keluarga dengan keyakinan apapun akan membuat beberapa nasi tumpeng dengan segala perlengkapannya mulai dari lauk, apem, buah pisang, ingkung (ayam yang dimasak utuh tanpa dipotong-potong). semua tetangga dari 8 arah mata angin diundang untuk menyaksikan acara itu. seorang yang dituakan, atau orang yang dianggap “bisa” lalu membacakan mantra yang sudah dihapal  dan berdoa. selesai, seluruh peserta yang hadir kemudian makan bersama.

meriah, tak ada satu pun warga yang merasa telah melakukan penodaan suatu agama.  begitu juga ketika ada warga yang mempunyai hajat, khitanan atau pernikahan misalnya.

seorang “dukun atau orang pintar akan dimintai tolong untuk menentukan kapan hari dan jam yang bagus untuk melaksanakan upacara sakral itu. selain itu tugas orang pintar lainnya adalah bertanggungjawab penu teradap kelancaran hajatan itu dari “sisi lain”. bukan mengurusi soal-soal teknis, tetapi pada masalah-masalah gaib.

orang pintar ini akan melakukan ritual tertentu untuk menolak (memindahkan) hujan. agara acara tidak ada roh-roh jahat yang mengganggu, orang pintar ini akan melakukan persembahan ke sebuah tempat, di kampungku disebut danyangan.  ritual yang dilakukan oleh dukun ini adalah membawa makanan lengkap yang ditaruh dalam sebuah anyaman janur kuning yang disebut (duh lupa). di bawah pohon besar itu, dukun tersebut membakar dupa dan seperti berdialog, dia mengatakan telah menyediakan persembahan untuk si f yang menguasai daerah mana, si u yang menguasai daerah mana lagi. intinya mereka diminta untuk tidak menganggu acara pernikahan yang sedang dilakukan oleh keluarga siapa.

percaya atau tidak, pada suatu pernikahan seseorang yang sok-sokan tidak melakukan ritual, sebuah keajaiban terjadi. nasi yang mereka masak tidak matang atau ada salah satu orang yang ikut membantu acara tersebut celaka. entah ini sebuah kebetulan belaka atau bukan.

ketika hari raya idul fitri tiba, semua merayakan. semua keluarga, baik yang islam abangan, kejawen dan animisme menyiapkan makanan untuk menyambut orang-orang yang silaturahim dan saling meminta maaf. tak ada pernyataan kamu kafir, hanya agamaku yang paling benar.

itu dulu tahun 80-90 an. sekarang makin modern, makin mudah akses informasi tapi toleransi makin menipis. padahal kutipan kaos yang pernah aku beli mengatakan, fanatism keeps you angry and stupid.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*