pulang kampung ke wonogiri

kampungmakin tahun, pulang kampung lewat darat makin macet. di satu sisi baik, orang-orang perantauan sukses, punya kemampuan membeli mobil meskipun mentalnya kadang belum siap. aku punya teman yang begitu memaksakan diri untuk membeli, maksudnya mengutang mobil (teman lain menyebut mobil kijang-kijangan itu mobil tukang sayur.

di sisi lain, pulang kampung perlu energi dan biaya lebih. tapi tidak apa-apa demi bisa dianggap sukses oleh minimal orang se-erte. aku kira pamer kesuksesan ini adalah dorongan paling besar para pulkamer untuk mudik. padahal sebenarnya semakin menunjuk-nunjukkan kekerenan dirinya, artinya dia makin tidak keren.

pulang ke wonogiri pada saat puncak arus mudik lewat darat, bukan menumpang kereta api perlu waktu 26-30 jam. padahal pada hari-hari biasa hanya perlu waktu 12 jam.  namun tak ada yang kapok pulkam, bahkan beberapa anak muda dengan nekat pulkam dengan sepeda motor. namun faktanya mereka bisa sampai di rumah lebih cepat.

wonogiri, kota di pinggir pulau jawa yang terhubung langsung dengan pacitan, tempat lahir pak sby ini masih banyak yang belum pernah mendengarnya. orang-orang mengingat wonogiri dengan gaplek, tukang jamu, tukang baso dan pembantu ini. tapi memang baso wonogiri adalah baso terenak se-asia.

dulu, ketika pertama kali ke jakarta, tiap ditanya dari mana, selalu aku jawab wonogiri. ternyata 99% kenalan baru itu tidak tahu, dimana letak wonogiri di peta indonesia. dulu belum ada google map, sehingga mencari dimana lokasi tersebut cukup susah.

bosan karena harus menjelas-jelaskan dimana wonogiri berada, akhirnya tiap pertanyaan darimana aku siasati dengan menjawab dari solo. mereka diam memperoleh jawaban itu, hanya orang-orang yang tahu benar tentang solo akan mengejar solonya dimana.

suatu hari yang apes, ketika kenalan dengan seseoran ternyata dia berasal dari solo asli, maksudnya solo kota. lalu dia berceramah, bahwa wonogiri bukanlah solo, jauh banget jarak dan macam-macamnya. dia kemudian melarang saya untuk mengaku-ngaku sebagai orang solo.

padahal maksudku hanya ingin mensmoothkan perbincangan. aku pun sakit hati, tapi tidak keberatan. karena dia memang tidak salah.
sejak itu aku mengubah menjawab pertanyaan asalnya darimana itu kembali ke kebiasaan awal: dari wonogiri. andai dia tidak tahu,

wonogiri dimana sih, aku akan menjelaskan, wonogiri itu dekat dengan darwin, oz. percakapan biasanya langsung berhenti dan beralih ke topik lain.

untung sekarang di era internet itu sangat jarang ada yang menanyakan, kecuali orang-orang yang masih belum tercerahkan adanya internet.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*