bagaimana memaknai diri(mu) sendiri

© Copyright 2012 CorbisCorporation

tanggal merah, hari besar nasional keagamaan, waisak, kamis 15 mei 2014, sebagai pekerja yang disiplin (baca: takut dipecat) kami masuk. namun diam-diam  korupsi waktu.

pagi itu sampai kantor lebih siang dari biasanya (terlambat 5 menit, saya anggap korupsi waktu) dan waktu makan siang lebih lama, lebih dari satu jam, karena keasyikan ngobrol, membahas hal-hal yang sebenernya bukan hal baru. (ada yang bilang apa sih yang baru dikolong langit, tak ada. yang ada hanyalah cara pandang baru)

di hari waisak ini, kebetulan sekali makannya di  warung padang yang namanya teratai. teratai atau bunga padma selama ini identik dengan budhha. pada sebuah bacaan, di sana diterakan bahwa bunga teratai itu meski hidup di danau bersampah yang bau, tapi bunganya tetap indah dan beraroma baik.

di warung padang ini semua pelayannya ngomong jawa, mungkin memang berasal dari pulau paling padat penduduknya ini.

di sini tak ada yang ada hubungannya dengan budha sama sekali. ada sop kepala ikan, rendang dan hewan-hewan lain yang dibunuh untuk memuaskan keserakahan manusia. (padahal hewan-hewan itu kan juga berhak berbahagia bukan. mereka sengaja kita pisahkan dengan pasangan, anak, tetangga atau teman yang mereka sukai. sayang sekali kita tidak pernah tahu apa perasaanya menghadapi ulah manusia yang seperti ini)

oya tentang bahasan yang klise dan basi itu adalah sebuah pertanyaan. pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dipertanyakan di kota ini, oleh para penghuni metropolitan yang setiap hari bekerja. berangkat pagi pulang petang dalam kemacetan. setiap hari, setiap minggu, setiap tahun dan seterusnya. mereka baru berhenti ketika mati atau dapat pekerjaan di kota lain dengan gaji yang lebih besar dan fasilitas yang lengkap. (seperti ekspatriat)

adalah gojira, namanya, tentu saja bukan nama sebenarnya (karena saat ini di bioskop sedang ramai film godzilla yang sebenarnya biasa-biasa saja). teman sekaligus coworker yang baru saja menikah. usianya 27 tahun. alasannya menikah adalah ia tak ingin mati, seperti orang-orang yang memilih bunuh diri karena bingung harus menghadapi pilihan hidup pada usia 27. (beberapa orang yang masuk club 27 diantaranya: kurt cobain, brian jones, alan wilson, jimi hendrix, janis joplin and jim morrison dll)

menghadapi rutinitas harian kehidupan jakarta yang membosankan ini, (bayangkan jakarta yang ringkih, kena hujan 10 menit saja tak berdaya. kemacetan di mana-mana. buruk dan minimnya transportasi umum, perilaku pengendara yang suka-suka dan kriminalitas.  dia bekerja di sebuah pabrik berita. dan ini bukan masalah kurang bersyukur, karena sudah punya pekerjaan tetap di suatu perkantoran yang mewah) menurutnya kita harus bisa memaknai diri sendiri secara personal.

artinya?

sebagai pekerja, dia harus mengerjakan tugas dengan baik, benar dan cepat. mungkin hasil pekerjaan itu “sampah” tidak begitu bermanfaat bagi kemaslahatan umat. namun dengan bekerja sungguh-sungguh dan serius, ia akan memperoleh uang, mencicil rumah dan membangun keluarga yang bahagia.

layaknya motivator, ia menyarankan untuk melakukan sesuatu yang disukai secara serius. suka membaca buku, lakukan dengan serius, jangan setengah-setengah. begitu juga ketika suka judi bola (waktu itu website-nya belum ditutup) ia melakukannya dengan serius, melihat pola, menghitung-hitung seperti judi togel atau sdsb. atau suka lari pagi, lakukan dengan serius sehingga ada progress. misalnya minggu ini bisa mencapai 1 km, minggu ke-2 bisa 2 km dan seterusnya.

dan saya menangkapnya sebagai sukses adalah ketika kita bisa memenangkan kompetisi dengan diri sendiri.

Share Button
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*