film `jalanan`, (hanya) memukau di mata hipster

jalananoksesuatu itu tampak indah ketika berjarak. misalnya warga kelas bawah begitu terpukau dengan tontonan sinetron yang menghadirkan orang-orang dengan kekayaan yang tak mungkin terjangkau oleh mereka. sebaliknya orang-orang kelas atas yang tidak pernah menginjak bumi, begitu terpukau dengan tontonan film tentang kemiskinan, seperti yang disampaikan daniel ziv dalam film dokumenternya `jalanan the movie.`

film jalanan, mendapat award  ‘best documentary’ di  busan internasional film festival di korea 2013 lalu. cerita di film ini sebenarnya biasa saja, tak ada yang istimewa. tiga pengamen jalanan yang harus survive di belantara jakarta yang “kejam”.

titi, ho dan boni menjalani kehidupan sebagai pengamen, entah karena tak ada pilihan atau karena sebab lain. ketiganya orang dengan karakter yang berbeda-beda itu menjalani hari-harinya dengan biasa-biasa saja, tidak istimewa. termasuk si boni yang tinggal di bawah jembatan dengan isteri dan tiga anaknya.

atau titi yang sudah mempunyai 3 anak, namun ia harus mencari uang di atas bus atau angkutan jakarta untuk membiayai anaknya yang tinggal di jatim, jakarta dan kalimantan juga orang tuanya yang sudah sakit-sakitan.

sementara ho, laki-laki berambut gimbal yang mengamen karena ia ingin berkarya di atas bus dan dinikmati oleh orang banyak. b
lalu di mana menariknya cerita di film jalanan ini? memang gambar-gambar yang disajikan memukau dan ini konon karena memakai kamera yang mahal.

bagi orang kebanyakan yang sehari-hari bersinggungan dengan realitas jakarta, jalanan jakarta bisa lebih seram, mencekap, lebih mendebarkan, lebih menyedihkan, lebih “yaelah bro banget’, lebih “hidup atau mati” dibanding yang ada di film yang disutradarai daniel ziv itu.

di tahun 2008-an saya sering sekali nongkrong di bundaran hotel indonesia, tepatnya di grand hyatt tiap jumat malam. di malam itu selalu ada momen yang sungguh-sungguh tak terduga. misalnya jam 2 dinihari, tiba-tiba muncul segerombolan anak-anak jalanan yang langsung nyebur ke kolam, tanpa melepas baju dan celananya. “mandi,” katanya. mumpung malam-malam tidak ada polisi yang jaga, tambahnya.

di malam lain, dinihari juga pastinya, ada seorang nenek-nenek yang disebuah pos polisi yang kosong. nenek itu tentu bukan nenek biasa. aku duga dia adalah seorang aktivis entah apa. ditengah kerumunan anak-anak jalanan, ia bercerita tentang masa kejayaanya di kota-kota yang pernah ia singgahi.

ketika ditanya kenapa di pagi buta ini ia nongkrong di pinggir kali, apakah nanti tidak dicari. perempuan yang berusia 80-an itu mengatakan, dirinya lebih tak berarti dibandingkan dengan sendok yang hilang pasti dicari. namun tak ada aura sedih di wajahnya.

episode-episode malam lainnya kadang lebih mengejutkan. film jalanan  rupanya hanya memotret kehidupan di jalanan yang biasa-biasa saja, atau yang baik-baik saja. namun ini film ini pasti memukau orang-orang yang kakinya  tidak pernah menapak ke bumi.

Share Button
4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*