3 kemarahan dalam 1 hari

Group of Men and Women Practicing Yoga

seharian kemarin kesabaran saya seperti roti tawar yang dipakai sarapan tadi pagi, sudah habis. makin hari persediaan kesabaranku makin menurun, atau makin banyak orang yang layak dimaklumi, entahlah.

hari minggu siang itu aku berangkat ke blok m, melakukan ritual bulanan: potong rambut. sebelumnya biasa potong di kaki lima yang bayar sepuluh ribu. namun sayang, tukang tempatnya tergusur, akan dibangun ruko yang nilai jualnya lebih tinggi. tukang cukur langganan minggir ke parung.

di dalam metromini, seseorang merokok dengan santainya. ia duduk sendiri dan tak ada seorangpun penumpang lain yang duduk di dekatnya. setiap ada penumpang yang masuk, dia memilih kursi atau jok yang masih kosong,

melihat perilakunya yang aku tak suka, menjadikanku diam-diam memperatikannya lebih detail. laki-laki itu membawa tas gendong, duduk semena-mena dengan menghalangi jalan. rambutnya panjang, kulitnya hitam, bersepatu, bertopi. laki-laki itu kepanasan, tampak dari kulit berminyaknya mengkilat. oh ya kupingnya ditumbuhi banyak rambut.

kemudian aku melakukan dialog imajiner dengannya, yang intinya mungkin dengan cara itulah ia memperoleh kebahagiaan. aku tidak (berani) menegurnya. laki-laki itu merokok sampai hisapan terakhir.

kemarahan kedua adalah ketika makan di warung manado. beberapa kali kesini karena buburnya cukup enak. sampai di dalam warung, tak ada waitersnya, entah apa yang dilakukan di dalam. setelah menunggu baru salah satu dari mereka keluar, menanyai mau makan apa.

sambil makan waiters yang merangkap kasir itu selalu menanyai para pelanggannya yang akan membayar, punya uang pas, punya uang kecil, dua ratusnya. ketika saya minta bil, dia berteriak dari tempat kasir, makan apa, minum apa, tambahannya apa , sambil mengetik di mesin. kenapa tidak memakai bon (atau bill) saja untuk mengingat pesanan?

kemaraan ketiga dipersembahkan oleh seseorang yang menyerobot antrean di depan mesin atm. sebenarnya ada banyak mesin atm, sehingga menunggu pun tak perlu waktu lama. namun ibu ini rupanya tak sabaran, tanpa ijin dia masuk ke bilik atm tanpa merasa bersalah.

entah ini suatu kebetulan atau tidak. malamnya seorang teman akrab waktu bocah menelepon. dia seperti ustadz saja, menasehati harus begini dan begitu, seperti tahu apa yang aku alami hari itu. baiklah, aku tidak membantah. kemudian aku ingat kata-kata dari gede prama di blognya, yang kira-kira intinya adalah semua kebaikan dan keburukan itu pada dasarnya adalah membimbing kita.

*image diambil dari corbis.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*