basa-basi yang sudah basi

42-50341710di sebuah lift di lantai 28 sebuah gedung di pusat peradaban seorang pekerja yang baru hari ini masuk menanyaiku asalnya darimana, kost atau rumah sendiri, berapa per bulannya. aku diam saja, hanya tersenyum. namun ia melanjutkan pertanyaan, alumni mana dan angkatan berapa.

maksud coworker tersebut tentu baik, ingin berakrab-akrab atau setidaknya ingin membuat suasana tidak kaku. ya basa-basi memang kadang diperlukan agar sebuah perjumpaan tidak garing. namun jika tidak hati-hati basa-basi yang basi akan menjadi bumerang, bisa-bisa membuat seseorang menjadi ilfil.

style basa-basi itu sudah expired. sekarang era 2.0, ketika semua orang sudah terhubung begitu kita kenalan dan tahu namanya, kita bisa memperoleh sebanyak-banyaknya data siapa dirinya.

basa-basi yang basi yang seperti menginterogasi itu berbahaya. karena tanpa sadar kita akan mengelompok-kelompokkan, mengkategorikan seseorang tersebut ke dalam persepsi yang kita buat sendiri. misalnya saya menjawab semua pertanyaan diatas, coworker saya itu pasti akan membangun sebuah persepsi tentang saya.

kira-kira dia membangun persepsi tentang saya begini: laki-laki paruh baya dari jawa yang beragama islam konvensional yang tempat tinggalnya jauh dan tidak pernah nongkrong di starbuck dan berbagai macam hal yang dia sukai (tidak sukai).

dari persepsi yang terbangun ini, seseorang tanpa sadar membatasi dirinya untuk mengeksplore pengetahuan yang dimilikinya. padahal setiap orang itu unik, setiap orang menyimpan kejeniusannya masing-masing. andai persepsi kita tentang dia kita batasi, kita sendiri yang rugi.

lalu bagaimana caranya agar basa-basinya lebih kreatif dan menceriakan. jangan lakukan basa-basi seperti yang pernah orang-orang lakukan berulang-ulang. pakailah konversasi yang kita buat sendiri. atau minimal membahas topik atau tema sesuai moment di mana kita berada saat itu.

*foto diambil dari corbis.com

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*