“teror” di bulan ramadan

42-29446180ramadan, bulan penuh berkah. bulan penuh pahala, ampunan dan semua hal yang baik mengumpul di bulan puasa ini. momen ini tak pelak dijadikan para badan amal atau perorangan untuk “meneror” orang-orang, mengajak melakukan kebaikan dengan cara berdonasi.

suasana pencarian dana itu sudah seperti lalu lintas jakarta sore hari yang hujanl, ramai dan kusut. jika kita jeli di mana-mana kita seperti dikepun para pencari dana, baik secara langsung maupun tidak langsung. dan yang dijadikan objek mereka adalah anak yatim, karena dengan menolong mereka pahala yang diterima akan lebih banyak.

dari bangun tidur mengecek email, beruntun email masuk dari beberapa badan amal nasional. menarik cara menyajikannya. mereka menawarkan paket-paketnya. ada paket buka puasa, paket bingkisan lebaran, ada paket berkah ramadan yang masing-masing berbeda isi dan harganya. user sangat dimudahkan dengan mentransfer sejumlah uang sesuai banyak paket yang akan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan itu.

di social media, khususnya di twitter juga tak kalah gencarnya kampanye akhirat itu dilakukan. Dan tentu saja aktivitas social itu mengundang retweetan yang banyak.

di jalan-jalan, bertebaran spanduk yang dipasang dipagar-pagar tak kalah provokatifnya. intinya mereka mengajak menyumbang dengan iming-iming pahala yang tak ada batasnya sampai dimudahkan jodohnya. aku menduga mereka memasang spanduk tanpa ijin apalagi membayar pajak. buktinya tidak ada stempel dari departemen perpajakan.

di angkot tak kalah #makjleb-nya terror itu karena kali ini yang melakukan terror adalah pelakunya langsung: seorang ibu muda dengan pakaian lusuh, menggendong anak batita, membawa kecrekan sambil menyanyikan lagu demi masa-nya raihan. hati siapa yang tak trenyuh melihat keadaan mereka, meski kadang-kadang otak berpikir atau berprasangka bahwa penghasilan mereka per bulan bisa jadi lebih besar dari orang-orang yang bekerja kantoran?

terror itu makin lengkap ketika kita mengunjungi mal kelas dua. (mal kelas atas biasanya tidak ada akses untuk pejalan kaki). di depan pintu masuk biasanya ada beberapa orang yang datang dari jauh, biasanya luar jakarta (dalam jakarta juga ada) yang atas nama yayasan meminta donasi kepada orang-orang yang lewat. mereka membawa atribut lengkap, semacam kartu penugasan. dan jika ada kita menyumbang, kita akan diberikan kuitansi tanda pembayaran dan kartu namanya.
para aktivis sosial itu mengagumkan, mereka puasa dan melakukan aktivitas itu tentunya suka rela, tidak dibayar. nah kalian pilih berdonasi ke siapa? 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*