berbagi itu gaya hidup 2.0

fbcef923297cec87d1a3ea63d5e0601d_akber-rame2

sebenarnya jauh sebelum menjadi volunteer di akademi berbagi, saya sudah mempunyai gagasan untuk mengkampanyekan berbagi sebagai life style. namun bingung juga bagaimana bentuk dan caranya? apalagi waktu itu belum jamannya social media. sehingga cukup susah mencari teman-teman sepaham yang bisa mewujudkan ide tersebut. karena sendiri tidak mungkin, saya bukan siapa-siapa yang suaranya layak di dengar.

ide itu muncul mungkin sebagai bentuk balas dendam masa lalu yang cukup menggelikan. suatu hari di di tempat kerja, saya memperoleh kesulitan ketika menyelesaikan tugas. sebenarnya tugas itu sangat sederhana yakni memodify sebuah images dengan menambahkan frame. tapi sayang sekali teman saya itu menolak menjelaskan. bayar dong, aku dulu waktu belajar juga bayar, kira-kira begitu jawabannya. ini sungguh serius bukan candaan.

pernyataan itu menyadarkan saya, tidak semua orang mau berbagi dengan rela. ok baiklah. aku menduga ini adalah bentuk karma terhadap perlakuan saya kepada semua orang yang pernah aku tanyai. kebiasaan saya kepada mereka, begitu mereka mau melayani pertanyaan saya, obrolan akan sulit berhenti. saya pernah menemui zen rs, penulis keren, sejarawan muda dan bertanya-tanya sampai pagi. padahal itu pertemuan pertama, sebelumnya tidak pernah berkenalan.

agak jarang ada orang yang mau melayani semua pertanyaan selama itu. apalagi mau membayari semua tagihan kopinya seperti zen rs itu. memang kesalahan saya yang paling fatal adalah belum berhenti bertanya sampai orang tersebut mengusir secara halus. entah alasan mereka karena sibuk semata atau hal lain. ada yang pernah mengatakan kalau bertanya saya seperti menginterogasi. tidak salah, karena saya ingin memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dengan cara yang gratis. kata guru sd saya, pertanyaan adalah setengah dari pengetahuan.

sejak berkembangnya social media, kesempatan bertemu dengan orang-orang baru makin terbuka. dan itu sangat menyenangkan. karena aku pikir semua orang itu unik, setiap orang itu menyimpan kejeniusannya masing-masing yang aku tak punyai. dan yang paling membuka kesadaran saya adalah bahwa di luar sana masih ada banyak orang yang dengan suka cita mau berbagi. kota jakarta yang selalu diidentikan dengan kesibukan, individualis ternyata tidak sepenuhnya benar.

trend berikutnya adalah munculnya komunitas-komunitas. saya ikut bergabung dengan beberapa komunitas: bunderan hotel indonesia, kopdar jakarta, dblogger, bunga matahari dengan semua orang bisa berpuisi. menarik sekali belajar dari komunitas-komunitas yang mempunyai kegiatan dan visi yang berbeda-beda itu. sayang sekali karena alasan klasik sibuk tak semuanya bisa mengikuti.

sampai suatu sore di garis waktu di twitter, aplikasi social media yang hanya menyediakan 140 karakter muncul pengumuman dari akademi berbagi yang menawarkan belajar iklan gratis bersama pak subiakto, owner hotline agency. aku pikir kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena guru yang akan mengajar adalah orang yang sangat kompeten di bidangnya. dan yang lebih penting tidak di pungut biaya.

konsepnya cukup menggebrak, sesuai namanya akademi berbagi semuanya full free, baik para guru yang sangat berkompeten di bidangnya, ruang kelas maupun para pengurusnya atau pengelolaanya. menurutku ini adalah kegiatan paling inspiratif yang pernah ada. kehadiran akademi berbagi seolah-olah meledek pemerintaah yang tidak cukup baik menyediakan tempat pendidikan murah yang berkualitas. yang memperoleh tamparan telak dengan adanya akademi berbagi tentu para praktisi yang terbiasa mengadakan pelatihan-pelatihan di hotel-hotel dengan biaya jutaan rupiah. akademi berbagi yang mengajarkan skill yang berbeda-beda tentu sangat bermanfaat bagi para karyawan atau mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya sesuai dengan bidang pekerjaannya.

beruntung sekali mba ainun chomsun menawari saya untuk ikut membantu terselenggaranya kegiatan keren ini. bagaimana tidak, di akademi berbagi saya memperoleh banyak pengetahuan baru, langsung dari orang-orang yang memang menguasai di bidang social media, marketing 2.o, public speaking, perencana keuangan, fotografi, creative writing, enterpreneurship dan topik-topik kreatif lainnya. di akademi berbagi saya tidak khawatir lagi jika bertanya, karena para guru tersebut pasti tidak akan berani mengusir. 🙂

agak tidak mudah memang menyisihkan waktu disela-sela pekerjaan utama. padahal sebenarnya tugas di akademi berbagi cukup ringan, tapi cukup menyita waktu juga. karena tinggal di jakarta, tugas saya hanya membantu terselenggaranya kelas-kelas akademi berbagi untuk wilayah jakarta. karena network saya yang masih terbatas kesulitan yang saya hadapi adalah bagaimana mencari guru-guru keren juga orang-orang yang mau menyediakan ruang-ruang kelas yang bisa dipakai untuk kelas akademi berbagi.

namun karena saya melakukan dengan riang, selalu saja ada kesempatan untuk sekedar membuat pengumuman kelas, mengkonfirmasi para pendaftar dan merespon pertanyaan orang-orang di twitter. bulan-bulan pertama akademi berbagi mengadakan kelas sampai tiga kali seminggu. mungkin karena waktu itu masih semangat-semangatnya.

sebisa mungkin saya akan selalu datang ke kelas yang diadakan. saya benar-benar berfikir sebelum memutuskan untuk mendaftar atau tidak. saya tidak ingin mendaftar asal-asalan, atau ikut-ikutan latah: yang penting daftar sekarang, masalah bisa datang atau tidak itu urusan belakangan. karena saya tahu, tempat yang disediakan oleh akademi berbagi terbatas. dan saya tidak ingin membunuh keinginan teman-teman lain yang juga ingin belajar terpaksa tidak bisa karena kuota yang disediakan sudah habis.

beruntung sampai sekarang saya bisa komitmen dengan keputusan yang aku ambil tersebut. jika memang sudah mendaftar, saya pasti akan datang. moment itu penting, karena tentu sangat susah berguru pada orang-orang hebat seperti pak subiakto, aidil akbar, budiman hakim, roby muhamad, prabu revolusi, melanie subono, ita sembiring, yuswohady, dian noeh, indira abidin, budiono darsono, clara ng, iim fahima, tuhu nugraha dan banyak lagi.

sehingga setiap ada kelas, saya selalu mempersiapkan diri maksimal. saya tidak mau telat satu menit pun dari waktu yang telah dijadwalkan.

seperti menonton bioskop, scene tiga menit pertama akan menentukan gambaran keseluruhan film akan seperti apa. dan jika hal itu terlewatkan, sepanjang film diputar akan terus dilingkupi pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi tak akan terjawab sampai film berakhir.

selain itu, alasan saya untuk datang tepat waktu, tak ingin mengganggu konsentrasi peserta lain yang serius menyimak apa yang di sampaikan pemateri. memang sampai sekarang masih sering terjadi, ketika pemateri sedang menjelaskan tiba-tiba ada yang nyelonong masuk. insiden pencarian tempat duduk, bisikan say hello ke teman akrab mau tak mau memaksa pemateri yang sedang berbicara di depan berhenti sementara beberapa menit. melihat suasana seperti itu, saya jadi teringat cerita teman yang suka nonton opera. katanya, begitu pertunjukan dimulai sesuai jadwal, pintu dikunci rapat!

selain memperoleh pengetahuan dengan perspektif baru, di akademi berbagi saya juga menenukan banyak teman-teman baru. tidak hanya di sekitaran kota jakarta. tetapi juga teman-teman dari akademi berbagi kota lain seperti bandung, surabaya, solo, jogja, palembang, gorontalo, ambon dan lainnya. dan itu sangat menyenangkan. tepat seperti taglinenya, berbagi bikin happy.

Share Button

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*