warung kopi paling sepi sore ini

wiken yang super panjang, biasanya penghuni kota jakarta beramai-ramai mengosongkan kota menuju tempat-tempat yang dianggap bisa melepas kejenuhan. namun sore ini, di warung kopi yang sering aku datangai, pengunjung cukup ramai juga.

ada anomali di setiap hal

satu-satunya alasan kenapa menyukai warung kopi yang berada di lantai satu pasaraya ini karena suasananya yang sepi. ini berkebalikan dengan nama mal dimana warung kopi ini berada. pasaraya sekarang sudah menua. seperti nenek-nenek yang tak punya daya tarik lagi selain untuk dikasihani.

banyak pengunjung yang rata-rata datang berpasangan atau berombongan, kecuali aku yang sendirian. aku tak mengenali mereka sama sekali, kecuali bule berkulit hitam. sore ini untuk ketiga kalinya aku berada di ruangan yang sama. namun aku yakin, pasti dia tidak mengenaliku bahkan memperhatikan saja pasti tidak.

seperti biasa, orang-orang yang datang kesini, selain sengaja untuk duduk-duduk ngobrol, ada juga yang serius bekerja. mereka miting, membicarakan bisnis yang (mungkin) berbajet miliaran atau triliunan atau bahkan bisnis yang tak ternilai harganya dengan mata uang.

sore ini crowdnya sangat random. selain para pekerja, ada dua keluarga lengkap dengan anak-anak dan babysitternya yang berseragam. tampak keluarga yang harmonis. meskipun sekali-sekali sang bocah yang berusia kira-kira dua tahun itu lebih akrab dengan pengasuhnya. ayah lebih suka membaca ipadnya dan ibunya mencicipi menu baru yang dipesannya.

aku seperti biasanya tidak pernah memesan kopi yang dibungkus dalam gelas-gelas kertas, karena tidak bisa menikmatinya. biasanya suka memesan jus. jus pun harus aku pastikan apakah jus buah segar atau hanya memakai essence. awal-awalnya si pramusaji menganggap aku becanda. namun lama-lama dia paham. karena tidak ada jus di warung kopi ini, aku akhirnya memesan teh beraroma buah-buahan.

aneh juga, racikan minuman ini, aku yakin rasa buah dalam teh ini adalah buah palsu. tapi sekarang ini tampaknya kepalsuan sedang disukai banyak orang. kitara lihat di sekitar kita, tak ada lagi yang original. semua pura-pura…..

aku menyeruput the yang warnanya semerah limun, air yang diberi sirop dan mendegarkan lagu jazzy yang aku tak paham siapa yang menyanyikan. di luar hujan mulai turun bersama matahari yang makin tenggelam. aku masih menunggi teman.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*