perjudian yang real

42-25340606

setiap pulang kerja, aku harus jalan kaki kira-kira lima ratus meter menuju halte agar bisa menumpang angkot ke tempat kost. (dulu, pertama kali menuju kantor ini aku harus naik ojek dengan ongkos lima belas ribu.)

melewati jalan sependek itu, ada beragam adegan, seperti di film, meski kadang lebih rumit. melihat adegan-adegan itu sambil berjalan aku selalu berpikir dan bertanya-tanya seperti wartawan dengan rumus 5 w dan 1 h-nya.

turun dari angkot pertama kali yang aku lihat adalah para penjaja asongan tisu, koran dan makaanan ringan. mereka menawarkan kepada orang yang lalu lalang tak mempedulikan. namun entah apa alasannya, selalu saja ada seorang pembeli, namun banyak yang tidak.

di sebelah kiri jalan, ada seorang ibu gendut penjual jus, yang tiap paginya ketika aku lewat di depannya selalu sedang membersihkan biji-biji sirsak dari daging buahnya dengan pisau. apa yang ibu pikirkan ketika ia mencongkel biji-biji sirsak yang berwarna hitam itu? aku duga dia berharap ingin ada yang membeli jus-nya.

tak jauh dari gerobaknya, seorang nenek duduk manis, menyodor-nyodoran mangkok yang berisi recehan, juga kepada semua yang melintas di depannya. usahanya kadang berhasil menggerakkan pejalan untuk memberi, namun kebanyakan gagal

sepuluh langkah dari situ ada deretan toko emas. seorang bapak-bapak setiap pagi selalu membersihkan jalan di depan tokonya yang berkeramik itu dengan air. dari hari ke hari style-nya sama, memakai celana panjang yang digulung sampai di bawah lutut. sementara temannya mengelap-elap kaca yang seolah tak bisa bersih.

aku menyeberang jalan yang tak ada lampu merahnya. jalan itu dibagi menjadi dua arah yang dibatasi dengan semen. namun kadang sopir metromini berulah, mereka merampas jalur temannya yang dari arus sebaliknya. orang-orang menyeberang dengan bergegas, entah mereka terlalu bersemangat atau terburu-buru.

mereka akan menuju ke taman. di tempat itu mangkal angkot-angkot ang membawa para penumpang ke arah selatan. angkot-angkot itu antre seperti rakyat miskin kebanyakan yang susah punya akses kemana saja. sambil menunggu giliran, para sopir itu berkumpul dan berjudi.

mereka membentuk lingkaran, melempar uang dan setelah koin itu jatuh menyentuh tanah, mereka serempak bersorak. ada yang menang, ada yang kalah. namun mereka tak pernah jera, besok dan besoknya lagi selalu berulang. begitulah, hidup adalah perjudian yang real. 🙂

imagage diambil dari corbis.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*