ketika makan tak lagi selahap orang lapar

suka atau tidak semua manusia harus melakukan aktivitas ini. karena tanpa makanan manusia akan mati lebih cepat. bagi mayoritas orang makan adalah keinginan yang harus dilampiaskan dengan puas. utamanya orang-orang yang masih muda. namun pelan-pelan, sesuai dengan banyaknya usia, makanan (tertentu) pelan-pelan berubah menjadi racun.

kesadaran ini muncul kira-kira setahun yang lalu. ketika di kantor tiba-tiba kepa pusing, mual-mual sekaligus sakit perut ingin ke belakang setelah makan siang di warung bu gendut. tak ingin cepat mati, aku pergi ke rs jmc diantar oleh co-worker galing gumilang dan pak budiman sopir blue bird.

setelah menunggu beberapa menit, dokter cantik memeriksa. semua test standar hasilnya normal. dokter itu lalu menduga-duga seenaknya. “mungkin bapak kecapekan, mungkin bapak terlalu banyak pikiran. tidak mungkin ini stroke ringan karena bapak masih mudah, katanya.

dokter itu langsung memberi obat yang bisa diminum saat itu juga. aku disuruh tiduran. sekira setengah jaman aku merasa lebih baik. aku pulang dengan membawa dugaanku sendiri. esoknya aku pergi ke tukang test kolesterol murahan yang hasilnya langsung kelihatan. dan benar, kadar kolesterol dalam darahku saat itu lebih dari 350. konon normalnya 200 saja.

ok sejak itu kakak saya yang baik itu selama sebulan menyediakan makan malam tahu dan tempe rebus yang dikasih bumbu saja. juga sup sayur bening bebas lemak. apa yang kalian bayangkan dengan makan malam yang monoton itu? hmm.. tiap membaui aroma makanan, rasanya ingin menghabiskan semuanya. tapi aku waspada, aku tak ingin mati muda.

mulai saat itu aku menjadi teman yang menjengkelkan bagi teman-teman jalanku. karena setiap kali akan makan, mereka harus mencari warung yang kira-kira ada makanan yang yang zonder lemak, minimal sedikit. secara berkala aku juga punya kebiasaan baru: test kolesterol. ketika dalam keadaan baik, dibawah 200, aku berani makan dengan (agak) tidak pilih-pilih.

aku ingat betul, makan terakhir kfc itu ketika ada seleksi peserta “aku cinta indonesia” 2011 yang dilakukan oleh detikcom sekitaran maret tahun lalu. dan aku selalu berusaha habis-habisan untuk tidak tergoda makanan pembunuh itu”.

kegiatan makan sekarang menjadi agak menyedihkan karena aku makan bukan berdasarkan keinginan namun lebih karena keinginan kuat untuk tetap sehat. sakit itu sangat tidak nyaman dan mahal. aku punya dua pilihan yang sama-sama tidak nyaman. makan “tidak enak” dan berharap tidak sakit atau makan enak sekarang, sakitnya kemudian. 🙁

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*