bahu-bahu jalan sepanjang blok m

diantara jalan iskandarsyah raya dan jalan sultan hasanudin jakarta.

hari kamis ini jam menunjukan angka 17:15. aku berdiri khusuk menunggu kopaja 19 yang akan membawa penumpang ke wilayah pusat yang konon pusatnya peradaban. di sana ada grand indonesia maupun plasa indonesia. dan akupun akan menuju ke salah satu tempat itu. warung kopi anomali.

menyedihkan memang, ke pusat peradaban kok naik kopaja, kenapa tidak busway atau taksi saja? tidak apa-apa,aku kira sama saja. kesedihan dan kesenangan akan terus menghampiri kita. sekarang sedih, besok mudah-mudahan senang. sekarang senang, mudah-mudahan besok tak ada kesedihan. itu hanya doa saja.

ketika sedang menunggu atau sedang apapun, aku suka melamun, bahkan ketika sedang makan atau berbincang denganmu. (inilah salah satu alasan kenapa aku tidak bisa naik motor dan tidak pengen punya mobil dan nyetir sendiri). tidak bisa konsentrasi, pikiran kemana-mana dan tidak jelas. absurd memang kalau harus diceritakan.

tapi mungkin itu sebuah keberuntungan. kebiasaan itu membuatku tak pernah merasa kesepian. setiap melihat seseorang, siapa saja dia: perempuan, laki-laki, anak-anak maupun dewasa aku selalu bercakap-cakap dengan mereka dalam diam. aku akan menduga orang yang berwajah oval, rambut kusut dan tampak galak itu mungkin sedang galau. atau bisa jadi juga sedang ceria.

orang-orang itu menjadi tokoh-tokoh cerita dalam imajinasiku. sayang memang, aku sering jahat sekali. orang-orang yang sudah menjadi tokoh di kepalaku itu selalu bernasib mengerikan. ia akan mengalami peristiwa yang belum pernah terjadi, yang kemudian membuat aku sedih. karena kebiasaanku itu, aku sering kebablasan ketika akan turun dari halte bus trans jakarta.

di setiap melakukan perjalanan, bahkan yang paling dekat sekali pun, aku tidak pernah menutup kuping dengan headpon. aku ingin mendengar semua hal yang bahkan tidak bisa didengar oleh telinga. aku ingin menyerap semua bebunyian yang berasal dari omongan, suara knalpot, daun-daun yang berbisik atau bahkan jalanan yang setiap detik dilalui mobil.

itulah kenapa aku lebih suka diam, yang bagi sebagian orang mungkin aktivitas sulit. dan benar, konon diam memang memerlukan energi lebih besar. konon sekarang ini lagi trend meditasi, salah satu cara metode agar bisa “diam”. oh ya ada yang bilang yang diam itu belum tentu tidak bergerak loh 🙂

matahari tenggelam pelan-pelan. angkot 19 pun belum ada yang lewat. aku merasa di tempat asing. tiba-tiba saja sekitaran saya bermunculan pedagang kaki lima di bahu-bahu jalan. mereka seperti vampir yang takut sinar matahari. darimana mereka berasal? jakarta tak ubahnya rimba raya, peraturan tak berlaku.

makin malam makin ramai, macet. semua bergerak, kecuali aku.

*foto diambil dari: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=444173

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*