sufi, sebuah terobosan dalam beragama?

dalam syiar yang sering kita dengar sejak masa bocah, agama islam selalu menakut-nakuti dengan adanya surga dan neraka. sehingga kita semaksimal mungkin dalam hidup ini harus berbuat baik agar memperoleh pahala-sebanyak-banyaknya. tujuannya satu: agar masuk surga, berhandai-handai dengan bidadari.

karena semangatnya mencari pahala sebanyak-banyaknya, beberapa orang (orang kebanyakan) melakukan apapun perbuatan yang dianggap baik secara brutal. seperti tokoh dalam cerpennya aa navis yang melegenda: robohnya surau kami. dia sholat terus-menerus namun abai pada keluarganya yang kelaparan.

keyakinan-keyakinan yang diajarkan sejak masa bocah itu dibahas dalam diskusi @kopdarbudaya pada 17 februari 2012 di kemang. diskusi tanpa registrasi dan tanpa durasi ini mengusung tema, lari ke sufi dengan @candramalik sebagai pematerinya.

malam itu @candramalik yang segera merilis album religinya menyampaikan banyak hal. mulai dari sholat, kebagiaan, kesederhanaan dan banyak hal. beberapa yang sempat aku ingat (karena tidak mencatat)

tentang shalat. shalat itu tiang agama, kata al quran. seperti pada sebuah rumah, tiang hanya ditempatkan pada sudut-sudut tertentu. sehingga jika sebuah rumah terlalu banyak tiang, otomatis rumah tersebut tidak bisa diakses.

satu lagi shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. ya hanya mencegah saja, seperti minum suplemen yang bisa mencegah sakit. namun untuk sehat tidak cukup minum suplemen, harus dibarengi dengan olahraga teratur dan makan makanan yang terpilih, tidak mengandung kolesterol, gula yang berlebihan.

kebanyakan minum suplemen, tubuh bisa sakit!

begitulah, apa yang disampaikan malam itu membuat para peserta terlongo-longo karena mereka memperoleh cara pandang yang sungguh berbeda dari apa yang kita tahu selama ini. seru dan “mengkampak muka”, kalau istilah kafka

contoh lagi: shalat (subuh) itu lebih baik daripada tidur. menurut @candramalik, shalat subuh itu lebih baik saja, tidak lebih benar. sehingga kita tidak berhak membangunkan seseorang untuk shalat subuh. karena setelah bangun tidur ia masih bisa melakukan banyak hal baik. tidurnya seorang yang berilmu lebih ditakuti setan daripada shalatnya ribuan jamaah yang tidak berilmu, katanya.

lalu bagaimana menyiasati kehidupan metropolitan yang begini rumit? begini ia menjawab, “berpikirlah sederhana. sufisme adalah pola hidup yang sungguh berani, kembali ke logika dasar ketika dunia sudah sedemikian pintar.”

“kesederhanaan adalah sebuah pencapaian tertinggi.untuk mencapai kesederhanaan diperlukan 3 elemen: energi, frekuensi, dimensi yang masing-masing harus pas takarannya. ketika sudah terbiasa berpikir dan bersikap sederhana, kita akan menemukan keluasan dan keleluasaan, seperti laut dan langit.

sudah ya. perbincangan yang nyaris empat jam itu kalau dituliskan bisa menjadi berpuluh-puluh postingan. 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*