suatu hari ketika google belum ada

hari ini, ketika kita memerlukan informasi atau data, kita tinggal buka googling. search engine paling populer ini sering kali disebut mbah google karena dianggap pintar. apapun data yang kita cari, semuanya tersedia. bahkan terlalu melimpah.

ini tentu saja sangat berbeda dengan apa yang terjadi sekitar satu dekade lalu. ketika pencarian data atau informasi masih dilakukan secara manual yang mengandalkan “hard copy”.

suatu hari, ketika saya jadi “tim pencari data’ sebuah penerbitan, tugas saya adalah menyiapkan data-data yang harus diolah oleh tim redaksi sebelum terbit. setelah rapat redaksi menentukan tema laporan utama, saya dan tim mulai berburu data untuk mensuplay kebutuhan tulisan mereka.

tentu saja pencarian data itu tidak bisa dilakukan dengan duduk manis dan ketak-ketik di papan tuts. namun harus bergerak dari satu kantor berita ke pusat dokumentasi, arsip nasional atau csis. bahkan tidak jarang harus mengetuk pintu seseorang untuk memperoleh data yang kita inginkan.

pernah suatu kali, saya harus datang ke suatu instansi untuk mencari data tentang dewi soekarno. dengan mengendari angkot, mengisi buku tamu, meninggalkan kartu identitas di receptionist baru saya diperbolehkan masuk ke “gudang data tersebut”.

di tempat penyimpanan dokumen itu, saya harus mencari sendiri dokumen yang tertata rapi di sana. membolak-balik lembar-demi lembar dan menandainya dengan kertas-kertas warna, agar tidak lupa. karena sekali jalan biasanya ada beberapa data yang harus dicari sekalian.

beruntung sekali kalau petugasnya keren. dia bisa memandu di edisi mana data-data yang saya butuhkan di simpan. dan ini mempercepat proses kerja saya. sekiranya sudah cukup, langkah selanjutnya adalah mengusung tumpukan data itu ke tempat foto kopy.

di meja itu saya harus mengambil nomor urut. sependek pengetahuan saya tempat foto kopi itu selalu antri. waktu yang dibutuhkan untuk mencari data kadang lebih cepat dibanding waktu untuk mengantri di ruang foto kopi. masalah lain akan muncul ketika data yang kita perlukan, juga dibutuhkan orang lain, sehingga waktu yang diperlukan untuk antri lebih lama.

biasanya saya menghabiskan waktu mengunggu itu dengan membaca. asyik juga berada ditengah-tengah data yang berisi informasi yang kadang tak pernah terduga. waktu menunggu berubah menjadi waktu penghiburan yang menyenangkan. kadang hal ini berlangsung seharian.

belum lagi kalau sehari harus mencari data ke tiga atau emoat tempat. cukup menyedihkan kalau diingat sekarang. namun memang itulah cara yang bisa dilakukan waktu itu. karena belum ada pilihan lain, semua terasa biasa-biasa saja.

teknologi mengubah segalanya. dan sekarang dengan sekali sentuh semua data bermunculan, bahkan berlebihan. kita sekarang kebanjiran informasi tentu saja ini juga menimbulkan masalah baru. konon yang akan tren adalah isu personalisasi. apa itu personalisasi, yuk mari kita googling dulu

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*