bahagia di warung sunda

sabtu 26 november malam ini bertepatan dengan malam tahun baru hijriah. karena malam minggu mati gaya, sengaja aku pergi keluar mencari makan. tak lapar betul sebenarnya, namun yang lebih utama ingin bisa berlama-lama. ingin mengusir malam agar pergi lebih cepat.

kupilih warung sunda yang bisa makan sepuasnya, apalagi sambal dan lalapan gratis disediakan. sampai di sana suasana lebih ramai dari yang aku duga. beberapa kelompok keluarga rupanya juga lebih senang makan bersama di luar.

aku memilih duduk yang di pojokan paling belakang. tempat ini viewnya sangat tepat, karena saya suka sekali memperhatikan wajah-wajah orang-orang yang datang. unik, diantara mereka tak ada wajah satu pun yang mempunyai wajah mirip.

dari setiap bentuk wajah dan ekspresinya aku mulai menduga-duga. orang yang ada di depanku ini kayaknya lagi senang, pancaran air mukanya fresh, banyak senyum dan sangat sopan kepada masnya yang penjaga warung.

dengan pilihan kata yang ia ucapkan, dari nada, tone dan irama perkatannya, aku duga dia seorang pendidik. mungkin dosen pintar dan humble yang kedatangannya selalu ditunggui oleh mahasiswa-mahasiswa.

lebih jauh kadang aku menjudge mereka berdasarkan pakaian yang dikenakan. dengan pakaian yang begini, aku duga ia seorang hipster atau alay. dengan pilihan model yang tren atau basi aku judge dia sebagai orang yang seleranya tinggi. dan seterusnya-dan seterusnya.

kadang aku sangat jahat, liar dan tak realis. namun semuanya hanya berseliweran di dalam otak. bagi sebagian orang mungkin aku melamun, padahal sebenarnya aku sedang membuat cerita. 🙂

cerita itu terputus ketika sebuah keluarga datang mengendarai mobil merah. ada dua pasangan orang tua dan dua anak yang lucu. paling besar aku duga sepuluh tahun lalu yang paling kecil masih berada dalam gendongan neneknya.

mereka berbincang akrab, diselingi senyum dan tawa. pasangan kakek nenek itu pasti sangat bahagia menyaksikan anaknya sukses. mereka bangga, usahanya dalam mendidik anak-anaknya membuahkan hasil. dengan karirnya yang baik, kakek nenek itu hidupnya tenang karena semua kebutuhannya dipenuhi anaknya.

pemandangan itu mengantarkan ingatanku ke tanah kelahiran. sebagai orang urban aku tidak pernah melakukan apa yang barusan aku saksikan. jangankan memenuhi kebutuhan rutin harian atau bulanan, untuk sekedar memenuhi permintaan paling standar pun tak bisa memenuhinya. mereka hanya berharap punya menantu.

tragis bukan? 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*