twitless, berbahayakah?

dulu sebelum ada twitter, beberapa orang membunuh waktu dengan membaca. beruntung sekali kita masih bisa menikmati adanya kemunculan twitter. dengan twitter dan social media lain kita bisa mengisi waktu dengan lebih menyenangkan.

masalahnya muncul ketika kita twitless. ketika mati gaya, tak ada lagi yang bisa ditwitkan. apakah harus memaksakan diri untuk mencari bahan twit? misalnya dengan kopi paste kutipan tokoh, kultwit tentang topik yang ia pahami atau chatting di ruang publik itu.

twitless, rasanya akan menjadi masalah paling urgent di era 3.0 ini. dengan medium yang hanya menyediakan space 140 karakter ini orang-orang menyerahkan sebagian hidupnya untuk mencari atau memberi. terpujilah si Jack Dorsey yang menciptakan aplikasi yang sangat sederhana ini.

karena mati gaya, sore ini aku mencoba melempar pertanyaan. mencari masukan, apa sebenarnya yang mereka lakukan ketika twitless? ternyata jawaban dari mereka cukup lucu-lucu. dari 7 orang yang menjawab, tak ada satupun yang memaksakan diri.

hanya @umenumen saja yang menjawab pertanyaan dengan balik bertanya, dimana dulu lokasinya, mas? :))

sementara yang lain menjawab seperti ini:

@cho_ro: baca timeline siapa tau ada yg bisa di reply, atau browsing dan berbagi link. Tapi gampangnya ya puasa ngetwit aja dulu 😀
@titutismail: simpen bb, baca buku ato baca majalah, keluar rumah, ngobrol dgn satpam sm mas2 cleaning service. Re: twittless
@MbakCurcol: bengong atau Reply2in tweet org. Re: Tweetless
@dgical: Gak ngetwit. 🙂
@wiwinsumartini: Baca buku, ngnet atau dengar curhatan Om 🙂
@cyapila: kalau aku, bawa buku, kalau luang bisa baca

namun seberapa efek buruk/baiknya ketika seseorang telah kecanduan twitter seperti di sini atau di sini . lewat postingan ini aku mencari jawaban. 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*