dalam menyumbang, mana lebih penting ikhlas atau kuantitas ?

yang sering kita dengar selama ini, menyumbang itu sekedarnya saja yang penting ikhlas. pernyataan itu tidak salah sama sekali. namun menurutku jika kita menuruti himbauan itu, kita adalah orang yang sangat egois. karena mementingkan kebutuhannya sendiri agar masuk surga.

menyumbang tidak ikhlas itu tidak apa-apa, yang penting banyak. terdengar sangat tidak religius pastinya. sangat tidak cocok dengan dalil-dalil yang ada di kitab-kitab langit. dan mungkin banyak orang yang tak ada yang setuju dengan itu.

ungkapan itu muncul ketika @karelanderson berencana mengedarkan amplop coklat ke seluruh karyawan. setiap tahun menjelang lebaran, ada tradisi menyawer. biasanya uang yang terkumpul dipakai untuk membeli parcel dan dibagikan kepada para pramu bakti. setiap tahun pula saya menjadi “petugas” untuk mengedarkan amplopnya.

tentu saja ungkapan saya itu agak menimbulkan kontroversi. namun aku berusaha menjelaskan. begini:

jika kita menyumbang sedikit dengan ikhlas, artinya kita lebih mengutamakan kepentingan sendiri. karena dengan ikhlas kita berharap Tuhan akan memberikan syurga kelak. Tuhan maha bebas berkendak, bisa saja Dia tetap menenggelamkan kita ke lautan api neraka meski kita menyumbang dengan ikhlas.

sementara orang yang memperoleh sumbangan yang jumlahnya sedikit, akan tetap menderita karena tetap tidak cukup memenuhi kebutuhannya.

sebaliknya, jika kita menyumbang banyak meski dengan tidak ikhlas efeknya lebih nyata. orang yang kita sumbang akan memperoleh manfaat lebih banyak. bayangkan jika ada 10 orang kelaparan. lebih bagus menyumbang sebungkus nasi dengan ikhlas lahir batin atau 10 bungkus nasi dengan tidak iklas.
Tuhan berkehendak bebas, bisa saja Dia menggelar karpet merah buat menyambut kita untuk masuk ke syurga?

tidak ikhlas hanyalah proses (yang tidak nyaman) untuk menjadi lebih baik. saya suka sekali dengan cerita tokoh kung fu bruce lee yang bisa push up dengan satu jari. pastinya ia mengalami ketidaknyamanan luar biasa ketika berlatih untuk sampai ke tahap itu. namun karena ia sering berlatih dan terbiasa, ketidaknyamanan itu menjadi hal yang biasa.

sehingga menyumbang banyak dengan perasaan dongkol, itu lebih baik. karena artinya kita sedang berlatih. suatu saat kita akan sampai ke tahap yang lebih baik. kalau kita tidak pernah berlatih tentu saja kita tidak akan pernah sampai kemana-mana. jadi waspadai jargon-jargon yang menina-bobokan, namun sangat “berbahaya”. misalnya semacam senyum itu sedekah atau tidurnya orang berpuasa itu ibadah.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*