commuter yang kehilangan spontanitas

jakarta, mungkin kota yang terlalu keras bagi kebanyakan penghuninya. meski tampak terang benderang namun menyimpan kegelapan di beberapa sudutnya. sekolah dan rumah sakit mahal, pengangguran, kejahatan menjadi hantu yang bersarang di tempurung kepala warganya.

orang-orang jakarta lebih antisipatif terhadap hal-hal buruk. mereka terus menciptakan hantu-hantu baru, ketakutan-ketakutan yang sebenarnya belum tentu real. terutama tentang masa depan yang entah kapan datangnya. mereka terus memikirkan bagaimana agar bisa menabung untuk hari tua, asuransi, dan berpola hidup sesuai standar yang ditetapkan konsultan perencana keuangannya.

beberapa orang terlalu serius memikirkan apa yang ingin di raihnya. efeknya mereka terlalu fokus, sehingga kehilangan spontanitas. mereka tidak pernah bisa ekspresif. pelan-pelan mereka berubah menjadi mirip zombie: dingin, mekanis dan acuh.

hal ini tampak di halte busway lebak bulus jakarta selatan kemarin pagi. di tempat itu selama dua jam saya dan teman membagi-bagi ribuan tiket gratis. meski banner besar dipasang di jalur penumpang yang menuju ke loket, sebagian besar tetap belum tahu. mereka abai, acuh dan fokus dengan pikirannya masing-masing.

sehingga ketika aku sodorin tiket gratis dan menjelaskan, tiket tersebut dari detikcom yang ulang tahun, mereka “shock”. ada yang diam sebentar, sepertinya tidak percaya. ada yang langsung paham, namun ekspresinya datar-datar saja. yang paling parah ada beberapa orang yang tidak percaya.

meski aku sudah teriak-teriak tiket gratis, ada beberapa orang yang tetap mengeluarkan uang dan menuju loket yang jelas-jelas tutup. mereka tidak percaya di jakarta masih ada kebaikan yang tanpa syarat. lebih dari 60 persen mereka tidak siap dengan hal-hal baik.

namun ada juga ekspresif mengungkapkan kesenangannya.seorang bapak langsung teriak keras mengucap alhamdulilah begitu menerima sobekan tiket gratis. aksi itu ditutupnya dengan menutup muka dengan kedua telapak tangannya.

seorang nenek-nenek janda pns yang sehat melakukan hal lebih. bersama cucunya ia akan pergi ke kantor pos fatmawati untuk mengambil uang pensiunan. ia mengaku sebagai fans berat trans jakarta sejak lama. ia juga memuji keberadaan bus trans jakarta yang menurutnya lebih layak.

ia sengaja berhenti beberapa menit, setelah mengucapkan terimakasih dan berjabat tangan. sadar dirinya membuat antrian nenek yang masih menyisakan kecantikannya itu pamit dan sekali lagi mengucapkan terimakasih. aku menduga dia menjalani hidupnya dengan pikiran yang sederhana. 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*