serdadu kumbang, potret masalah pendidikan indonesia

serdadu-kumbang3

film-film alinea pictures selalu konsisten mengusung tema-tema anak (keluarga). denias, tanah air beta, king dan yang terbaru serdadu kumbang. ari sihasale seperti ingin menampilkan indonesia yang berbeda dengan yang selalu dihembus-hembuskan televisi.

para penyuka film mungkin sudah mahfum, ari sihasale sebagai sutradara selalu menampilkan keelokan alam indonesia sebagai background filmnya. misalnya pada tanah air beta, ia menampilkan keindahan alam nusa tenggara timur yang berbatasan dengan timor-timor. di serdadu kumbang ini, ia memilih cerita dengan seting daerah bima.

film serdadu kumbang ini menceritakan keadaan mayoritas anak-anak indonesia yang belajar dalam kondisi menyedihkan. orang tua yang miskin, tak adanya fasilitas belajar di sekolah serta guru yang masih suka menerapkan kekerasan dalam menegakkan disiplin.

umek (Yudi Miftahudin), salah satu siswa yang bandel, sering membolos namun punya semangat tinggi. namun laki-laki 12 tahun ini sangat solider pada teman-temannya. sebenarnya ia anak baik, namun karena bosan dengan hukuman yang diberikan pak alim (lukman sardi) ia malas sekolah. berbeda dengan kakaknya minun yang selalu juara kelas.

film ini tidak hanya memfokuskan masalah amek di sekolah. namun juga masalah keluarga yang ayahnya pergi ke malaysia. sudah tiga tahun tidak pulang, namun ketika pulang hanya menambah masalah saja. umex terpaksa melepas kudanya karena kebohongan yang dilakukan ayahnya.

meski film ini untuk anak-anak, namun persoalan yang disampaikan sungguh berat: tentang buruknya pendidikan di indonesia yang di sampaikan dengan adegan semua anak tidak lulus ujian nasional. puncaknya ketika minun jatuh sewaktu memanjat pohon cita-cita.

film ini cukup baguslah meski ceritanya kurang kuat. ada beberapa adegan yang mungkin sebaiknya tidak ada. oh ya adegan papin yang selalu memberi khutbah juga terlalu banyak durasinya. akting putu wijaya sangat bagus, berkharisma.

mumpung anak sekolah libur ajaklah anak-anak atau keponakan menonton film yang disponsori newmont ini. cukup inspiratif!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*