2011: era kebangkitan konsumtivisme nasional?

kopdar-budayaq41

kalau kita lihat di sekitar kita, kegiatan-kegiatan positif bermunculan. misalnya maraknya pesepeda yang bertujuan selain agar sehat, juga bisa mengurangi pemanasan global. beberapa program lain mengusung tema go green yang bertujuan menyelamatkan bumi.

program-progam tersebut begitu mulianya, sehingga orang-orang dengan kesadarannya sendiri, tanpa perlu perintah akan berbondong-bondong mendukung gerakan gaya hidup sehat tersebut.

namun diam-diam program-program mulai tersebut juga menjadi pemicu budaya konsumtif di masyarakat. munculnya produk-produk semacam fixie, susu l-men, susu low fat, fitness center misalnya sanggup mengubah perilaku budaya masyarakat menjadi tampak lebih berbudaya. dari sinilah muncul kelas baru di masyarakat yang disebut orang berbudaya baru.

begitulah yang mengemuka di acara kopdar budaya volume 4 yang diadakan pada kamis (20/05). bertempat di foood kulture plasa indonesia, mumualoha sebagai pembicara menyampaikan orasi budayanya yang bertema: kebangkitan konsumtivisme nasional.

menurut mumu, ada banyak faktor yang memicu perilaku masyarakat lebih konsumtif. selain iklan yang membombardir kita di media apa saja dan kapan saja faktor lainnya adalah kebijakan tarif penerbangan murah, jor-joran kartu kredit, booming acara petualangan dan kuliner di televise dan munculnya kebangkitan nasionalisme banal yang membuat orang merasa sudah nasionalis ketika memakai batik dan juga jargon “cintailah ploduk-ploduk Indonesia“.

keadaan itu membuat para pemilik modal membuat strategi baru untuk menangkap peluang. maka muncullah pencanggian-pecanggihan cara dan bentuk produk yang ditawarkan. misalnya memodifikasi mall menjadi towns square. dari distro ke bright spot market ke goods dept. beragam pekan raya, pameran, festival, jakarta great sale, midnight sale, sale di area perkantoran bahkan sampai ke garage sale.

lainnya adalah kartu kredit yang bekerja sama dengan bran-brand tertentu yang menawarkan diskon. selain itu juga munculnya produk-produk kw 1-3 dan baju-baju bekas di senen, jakarta pusat.

barang konsumsi kini merupakan simbol status dan kelas sosial seseorang. kelas ataslah yang menentukan dan melakukan hegemoni dalam pola-pola konsumsi. di kota-kota besar, konsumtivisme telah menjadi agama baru dan mal adalah katedral-katedralnya.

diskusi intim tanpa durasi dan registrasi itu mengungkap, ada beberapa orang yang telah kecanduan belanjanya yang akut. mereka tak pernah memikirkan lagi apa fungsi barang yang dibeli. yang penting hasrat belanjanya tersalurkan saat itu. misalnya ada yang kecanduan jean jepang, sepatu nike, barang apapun asal lebih murah, dibawah harga standard sampai pada dvd bajakan.

pada kopdar budaya malam itu muncul pertanyaan, apakah konsumtif satu-satunya untuk tetap mempunyai identitas?

kopdar-budayaq4a1

foto: wilian hengky @WILWOLZ

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*